Artikel Best Practice

Desember 2, 2015

Baca entri selengkapnya »

Lomba Cipta Lagu Gerbang Bangsa Kab. Cilacap

Oktober 1, 2010

Lomba Cipta Lagu Bertemakan Gerbang Bangsa

(Gerakan Bangga Mbangun Desa)

Kabupaten Cilacap

Sebagai suatu upaya ikut membentuk karakteristik bangsa supaya menjadi bangsa yang kreatif, mencintai keindahan dan kesenian, juga untuk melahirkan talenta baru sebagai seniman yang akan menjadi agent of change dalam membangun Cilacap yang bercahaya, Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cilacap, menggelar Lomba Cipta Lagu Mars dan Hiburan bertemakan Gerbang Desa (Gerakan Bangga Mbangun Desa) berhadiah total Rp12.000.000,00 (duabelas juta rupiah).

Lomba Cipta Lagu Bertemakan Gerbang Bangsa dibagi dalam 2 kategori, antara lain :

1.             Lomba Cipta Lagu Mars “Gerbang Bangsa”

Lomba bersifat terbuka untuk seluruh warga masyarakat Kabupaten Cilacap dibuktikan dengan fotocopy KTP (kartu tanda penduduk). Lomba juga dapat diikuti PNS dan NonPNS yang bekerja di lingkungan SKPD se Kabupaten Cilacap dibuktikan dengan SK atau surat keterangan dari dinas terkait. Hak edar lagu terpilih berada pada Pemerintah Kabupaten Cilacap dan akan dijadikan lagu wajib dalam lomba paduan suara memperingati Hari Jadi Kabupaten Cilacap.

Peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) buah naskah lagu dengan ketentuan sebagai berikut :

a.         Teks atau syair (lirik) lagu ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, bermakna dan mudah dipahami oleh masyarakat,

b.         Menggunakan tangga nada diatonis (boleh mayor atau minor) dengan durasi maksimal 32 bar untuk birama 4/4 dan maksimal 48 bar untuk birama 2/4, dengan teks maksimal 2 (dua) bait,

c.         Teks lagu ditulis dalam bentuk partitur sederhana dengan menggunakan notasi angka (notasi balok diutamakan) dalam satu suara,

d.         Bentuk lagu bebas (boleh AAB, ABC, AABA, ABA, dll)

e.         Lagu harus asli, bukan merupakan adaptasi dari lagu yang sudah ada dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba cipta lagu lain,

f.           Naskah lagu dan dokumen pendukungnya (fotocopy KTP, SK, dan DRH) harus sudah diterima panitia paling lambat Rabu, 10 November 2010 dengan alamat : Panitia Lomba Cipta Lagu Mars Gerbang Bangsa, d.a. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cilacap, Jl. Kalimantan No………………….., Telp. ……………………………….

2.             Lomba Cipta Lagu Hiburan (pop, dangdut, campursari) bertemakan “Gerakan Bangga Mbangun Desa”.

Lomba bersifat terbuka untuk seluruh warga masyarakat KabupatenCilacap dibuktikan dengan fotocopy KTP (kartu tanda penduduk). Lomba juga dapat diikuti PNS dan NonPNS yang bekerja di lingkungan SKPD Kabupaten Cilacap dibuktikan dengan SK atau surat keterangan dari dinas terkait. Hak edar lagu terpilih berada pada Pemerintah Kabupaten Cilacap dan akan dijadikan lagu wajib dalam lomba nyanyi tunggal memperingati Hari Jadi Kabupaten Cilacap.

Peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) buah naskah lagu dengan ketentuan sebagai berikut :

a.         Teks atau syair (lirik) lagu ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, bermakna dan mudah dipahami oleh masyarakat,

b.         Menggunakan tangga nada diatonis (boleh mayor atau minor) dengan durasi maksimal 32 bar untuk birama ¾, 4/4 dan 6/8 serta maksimal 48 bar untuk birama 2/4, dengan teks maksimal 2 (dua) bait,

c.         Teks lagu ditulis dalam bentuk partitur sederhana dengan menggunakan notasi angka (notasi balok diutamakan),

d.         Bentuk lagu bebas (boleh AAB, ABC, AABA, ABA, dll)

e.         Lagu harus asli, bukan merupakan adaptasi dari lagu yang sudah ada dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba cipta lagu lain,

f.           Naskah lagu dan dokumen pendukungnya (fotocopy KTP, SK, dan DRH) harus sudah diterima panitia paling lambat Rabu, 10 November 2010 dengan alamat : Panitia Lomba Cipta Lagu Mars Gerbang Bangsa, d.a. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cilacap, Jl. Kalimantan No………………….., Telp. ……………………………….

Keterangan lebih jelas dapat ditanyakan kepada :

Yonas Suharyono, S.Pd, MM.Pd

Guru SMP Negeri 1 Cilacap

Jl. Jend. A. Yani No. 15 Cilacap

Telepon : (0282) 533152

Telp. Rumah : (0282) 543415

HP : 081578065102 / 085647663998.



thek-thek

Agustus 20, 2010

Musik Tek-Tek, Eksotika Budaya Pinggiran

Oleh Yonas Suharyono,

…….

Jaran-jaran cilik, cilik ombaking banyu

Jaran-jaran cilik, cilik ombaking banyu

Manggut-manggut kaedanan jaran cilik

Cilik soderena, rio jomplangena

Do ma nini… aduh enake….

Adhuh enak, adhuh enak, adhuh enak

Adhuh enak….

Lagu di atas mengalun dari para penabuh kentongan bambu di sebuah dusun di pinggiran Kota Cilacap, kota paling pojok barat daya Provinsi Jawa Tengah. Syair khas Banyumasan itu begitu lancar meluncur dari mulut-mulut bersahaja para panayagan (penabuh) alat musik ritmis dari bambu wulung itu. Kesederhanaan dan kebersahajaan musik itu mampu membangkitkan rasa kebersamaan di antara mereka untuk menyuarakan musik rakyat pinggiran.

Simbol Kesederhanaan

Tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa tek-tek, si kentong (yang di Wonosari, Gunungkidul disebut thoklik) itu mampu bangkit dan mencuat bak meteor di tengah-tengah menjamurnya musik campursari dan kelompok-kelompok band remaja pada dasawarsa terakhir. Bagaimana mungkin potongan-potongan bambu wulung yang dibentuk kentongan itu mampu menggeser dominasi calung, alat musik bambu yang lahir berabad-abad sebelumnya, juga yang lebih agung lagi, musik karawitan. Kesederhanaan tidak saja tampak dari bahan serta medianya, tetapi juga teknik, gaya, serta penggunaan komposisi musikalnya. Para penabuh tidak peduli apakah lagu yang dibawakan sesuai dengan tonalitas/melodi, harmoni, dan pola ritme, sebab dimensi itu terlalu jauh untuk diterapkan dalam ranah budaya pinggiran. Bagi mereka, kebersamaan dalam kesederhanaan adalah harmoni yang sesungguhnya. Asal ramai dan bisa dijogetin.

Kalau dahulu fungsi kentongan bambu (thoklik) lebih banyak digunakan sebagai teman beronda di malam hari, membangunkan warga untuk makan sahur pada bulan puasa, sarana komunikasi paling efektif pra-interkom, kini si kentong alias tek-tek ini mampu merambah strata elite. Di wilayah eks-karesidenan Banyumas (Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga) bahkan Tegal dan Pekalongan alat musik bambu ini telah menjadi primadona. Betapa tidak, keberadaan musik ini kini menjadi pilihan utama bagi kantor-kantor, bank, dinas, instansi yang merayakan hari jadi, ulang tahun, hajatan, bahkan menyewanyan untuk mengikuti lomba. Mereka di-booking dengan harga yang cukup tinggi untuk kelas musik rakyat. Di Cilacap, ada yang pasang tarif hingga 5 juta rupiah untuk sekali tampil berdurasi antara 2 hingga 3 jam.

Tonalitas Diatonik

Dilihat dari bentuk fisik serta suara yang ditimbulkan, musik tek-tek merupakan jenis alat musik ritmis (non-nada). Pada awalnya hanya beberapa potong bambu wulung yang dipukul secara ritmis dan membentuk suara yang khas, namun belakangan muncul bentuk angklung yang memberikan nuansa melodis. Tentu saja ini sudah keluar dari bentuk baku tek-tek itu sendiri, sebab angklung juga sudah mempunyai wilayah sendiri.

Pada musik angklung melodi yang ditimbulkan adalah tonalitas diatonik (diatonic scale), di mana nada yang tersusun adalah rentetan nada yang strukturnya menganut standard musik dunia yang menggunakan pola jarak baku. Tentu saja ini bertolak belakang dengan kebanyakan musik tradisi Jawa yang kebanyakan menganut sistem tonalitas pentatonis (pentatonic scale), lazim dibagi dalam titi laras slendro dan pelog. Kalau dengan titi laras pelog masih bisa disejajarkan karena ada pola jarak yang sama antara keduanya, namun jika lagu yang dinyanyikan berlatar belakang titi laras slendro, maka akan ada pemaksaan dalam menyajikannya. Namun demikian, dalam permainan tek-tek tidak ada yang tabu dalam menyanyikan lagu. Tak peduli fals atau tidak, yang penting ramai dan menghibur.

Penggunaan tonalitas diatonik ini memberikan keleluasaan bagi penggarap musik tek-tek dalam mengoleksi lagu-lagu yang diadaptasi ke dalam musik jenis ini, mulai dari lagu daerah Jawa Tengah, lagu Sunda, Bali, Maluku, Tapanuli, bahkan lagu mancanegara baik di Asia maupun lagu barat, mulai lagu dangdut, campursari hingga populer. Oleh karena itu musik tek-tek sangat fleksibel dan relatif mudah di samping pola ritmenya yang sederhana juga penggunaan unsur harmoni yang tidak rumit. Unsur harmoni dalam hal ini hanya berkisar pada keselarasan antara bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh instrumen melodis dan ritmis, belum sampai pada tingkat penggunaan akor sebagaimana dalam musik yang lain.

Pada dasarnya musik tek-tek hanyalah hasil eksplorasi bunyi-bunyian khas kentongan kemudian ditingkah bunyi angklung yang sudah mempunyai pola melodi ditambah bentuk gambang bambu (calung) yang disejajarkan  dengan bunyi angklung. Eksplorasi bunyi-bunyian ini tidak berhenti sampai di sini. Pada perkembangan selanjutnya dimasukkan instrumen ’keplak’ semacam ’remo’ dan ’kecrek’ atau ’tamborin’ untuk memperkuat unsur ritmis. Untuk memberikan aksentuasi pada bass diambilah tong (tempat ikan bekas), yang kecil mereka sebut cello, dan yang besar untuk bedug (bass). Pada tingkatan eksplorasi yang lebih tinggi, dimasukkan juga kendang jaipong, serta perangkat-perangkat aksesoris yang lain.

Bentuk penampilan

Penampilan tek-tek tidak seru jika tidak melibatkan penari sebagai hiasan penampilan, penyanyi biasanya dirangkap oleh penabuh kenthongan yang suaranya lantang serta bisa mengimbangi volume instrumen. Yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan seorang dirigen yang mereka sebut mayoret lengkap dengan tongkat komando (stik major leader). Mayoret bisa dilakukan oleh seorang laki-laki atau perempuan, atau bahkan yang lebih kemayu lagi, waria. Dalam hal ini dibutuhkan pula seorang koreografer yang bertugas menata gerak bagi penari-penari penghias penampilan. Selai itu ada pula petugas perancang (desain) aksesoris yang akan mendukung segi visual, seperti kuda kepang, ornamen instrumen, hingga pemunculan gunungan (kekayon).

Seperti musik-musik kontemporer lainnya, musik tek-tek bakal bernasib sama, ada saatnya naik, ada saatnya turun. Berbeda dengan saudara kandungnya yang dilahirkan lebih dulu, calung. Sama-sama dari keluarga bambu wulung, calung (orang Banyumas mengartikan : carang pring wulung atau dicacah melung-melung) lebih ngeklasik dan tertata baku dengan tonalitas sama dengan karawitan jawa, slendro dan pelog, sedangkan tek-tek lebih dekat dengan campursari dan musik kontemporer lainnya. Oleh karena itu usia tek-tek diprediksi juga tidak akan bertahan lama, artinya, kepopuleran musik ini akan segera tergeser oleh sesuatu yang relatif baru, yang merupakan kreasi dan eksplorasi para pelaku seni pada saat itu.

Boleh jadi, bagi tek-tek yang kini naik pamor dan menguasai tahta musik rakyat Banyumas, booming ini adalah klimaks dari perjalanannya. Perjalanan yang singkat melesat  bak meteor itu (tidak bisa dielakkan) bakal redup perlahan dan pasti seiring berjalannya waktu. Dan Si Kentong akan kembali pada fungsinya semula, sementara Si Calung, pasti bertahan dengan segala kesederhanaannya.

Yonas Suharyono,

Guru dan pengamat musik tradisional

Tinggal di Cilacap

adipura untuk kota cilacap

Agustus 19, 2010

MEMAKNAI ADIPURA BAGI CILACAP BERCAHAYA

Yonas Suharyono

Cogan Kemenangan telah tertancap kukuh di tanah Cilacap. Cogan, panji, dan cetera berkibar-kibar mengitari Adipura, penghargaan penuh gengsi dari pemerintah untuk kategori kota terbersih, terindah, terindang  yang untuk pertama kalinya singgah dan akan bersemayam di Bumi Wijayakusuma Sakti itu. Lepas dari munculnya berbagai kasus yang akhir-akhir ini sangat memprihatinkan warga kota pojok itu, penghargaan Adipura telah membangkitkan gairah ‘wong tlatjap’ untuk memaknainya sebagai suatu predikat yang layak dimiliki setelah sekian tahun menunggu. Betapa tidak, di dalam situasi dan kondisi yang prihatin itu, Cilacap sudah layak disejajarkan dengan kota-kota besar di Jawa Tengah yang sudah lebih dulu merengkuh Adipura.

Sangat layak jika tahun ini Cilacap mampu meraih predikat kota kategori ‘sedang’ yang bersih, indah dan teduh dan sekian predikat lainnya karena sejak sepuluh tahun yang lalu Cilacap sudah dikondisikan seperti itu. Lihat saja penataan kota yang rapi, taman yang anggun didukung keindahan pantai yang membentang luas di sebelah selatan, yang jarang dijumpai di daerah lain. Kondisi demikian didukung juga oleh pesatnya perkembangan kota pada lima tahun terakhir. Perkembangan kota ke utara mencapai Bandara Tunggulwulung, sedangkan ke timur hingga batas Karangkandri yang merupakan pintu gerbang kota.

Jika kita menengok ke belakang, program kebersihan dan keindahan kota Cilacap sudah dirintis sejak era tahun 1990an, ketika Bupati cilacap periode 1987 hingga 1997 Muhammad Supardi mencanangkan sesanti Cilacap Bercahaya, akronim bebas dari Cilacap yang bersih, elok, rapi, ceria, hijau, aman, dan jaya ditambah berkilau. Bahkan sesanti itu diabadikan dalam gubahan lagu mars oleh seniman musik otodidak aseli Cilacap, Sumardi Hs, dengan judul yang sama dan selalu dinyanyikan dalam acara resmi mulai pendopo kabupaten hingga balai desa di seluruh pelosok Kabupaten Cilacap. Oleh karena itu pantaslah jika saat ini Adipura yang diidamkan itu terwujud.

Adipura oleh rakyat untuk rakyat

Yang boleh bangga atas penghargaan bergensi ini tentu saja bukan hanya pemerintah kabupaten yang dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Dinas Cipta Karya, Kebersihan dan Pertamanan (DCKKP), tetapi juga warga masyarakat yang sepenuhnya  mendukung terciptanya kota yang indah, bersih, teduh, tetapi berwibawa. Mereka adalah warga pasar, para bakul, wong terminal, warga lingkungan perumahan, pegawai perkantoran, warga sekolah yang menjadi sampel dan titik pantau yang diambil secara acak. Mereka, dengan segala daya upaya ikut menjaga dan peduli kebersihan lingkungan kotanya. Hampir tidak pernah terdengar Satpol PP Cilacap ribut dengan warga hanya karena penggusuran pedagang kaki lima seperti yang terjadi di tempat lain.  Bahkan pedagang kaki lima yang sudah bertahun-tahun menempati areal alun-alun rela digeser ke tempat lain meskipun menurut mereka tempat tersebut kurang strategis.

Keterlibatan  masyarakat dalam mewujudkan kondisi kota yang cantik juga terlihat tidak saja dalam rangka menggapai Adipura, tetapi setiap ada peristiwa bersejarah yang  memerlukan seremonial, warga selalu antusias memenuhi jalan kota. Karakteristik masyarakat kota Cilacap yang demikian didukung juga oleh seringnya diselenggarakan pesta rakyat seperti sedekah laut, peringatan hari jadi, pesta budaya, dan sejumlah agenda tahunan lainnya.

Jabat hangat dan ucapan  selamat layak disampaikan kepada Kepala BLH dan Kepala DCKKP Kabupaten Cilacap  yang sudah begitu bersemangat dan gigih mengatur strategi termasuk melakukan sosialisai program kepada seluruh komponen masyarakat yang menjadi titik pantau penilaian. Sehebat apa pun program yang dicanangkan tanpa adanya unjuk kerja semua komponen, mustahil berhasil.

Komponen penilaian

Jika melihat aspek penilaian yang ditetapkan tim penilai pusat yang meliputi komponen kebersihan, sebaran dan fungsi pohon peneduh, penghijauan, pedagang kaki lima, drainase, keberadaan tempat sampah, serta pengelolaan sampah yang ditekankan pada pemilahan sampah dan pengolahannya, Cilacap sudah memenuhi semua kriteria tersebut. Nilai 75 yang diraih Cilacap sudah jauh melampaui batas minimal yang ditetapkan tim penilai. Tidak terkecuali, sekolah-sekolah yang menjadi unsur  pendukung titik pantau juga ikut menjadi penentu keberhasilan tersebut.

elkaes

Agustus 19, 2010

ELKAES

Cerpen : Yonas Suharyono

Matahari Bulan Juli semestinya sudah berada di sebelah utara katulistiwa, sehingga sengatan panasnya sudah tidak begitu tajam di ubun-ubun. Semestinya  angin tenggara bertiup sepoi-sepoi dan terus menerus berhembus sehingga panas yang terpancar dari sang mentari bisa dihalau dengan kesejukannya. Tetapi tidak bagi perempuan itu. Siang ini sinar matahari begitu terik menyengat tubuhnya yang berbalut seragam keki khas pegawai negeri.  Kerudung putihnya menambah kesan teduh di wajahnya yang memang memancarkan aura seorang muslimah yang taat beribadah. Tetapi resah hatinya telah mengubah  mata yang teduh itu menjadi rusuh. Dia tak bisa menyembunyikan dengan senyum seramah apa pun ketika Nurahajeng, siswa kelas VIII B berusaha menyambutnya dengan ramah, khas sambutan seorang gadis.

“Selamat siang, Bu Niken…”

“Selamat siang, Nurah”.

“Boleh Nurah bantu angkat bawaan Ibu?”

Sejenak perempuan itu menatap mata siswa kesayangannya, lalu tersenyum ramah. Dan  berpindahlah tumpukan buku-buku  ke tangan gadis lincah itu. Sebongkah beban lepas dari gayutan tangannya, tetapi berbongkah-bongkah lagi masih menyenak dalam dadanya. Dan inilah beban hidup paling berat yang selama bertahun-tahun  tidak pernah bisa diatasinya. Sebagai seorang guru dia harus berada pada posisi strategis bagi perkembangan kecerdasan peserta didiknya yang memang sangat membutuhkan jamahan tangannya. Di lain pihak dia harus tunduk kepada kebijaksanaan atasan yang kadang tidak sejalan dengan hati nuraninya. Sebagai  seorang agen pembelajaran dia harus berada di antara kebutuhan siswanya yang memang beragam dan kebijakan pimpinan untuk pengembangan institusi pendidikan tempat dimana dia mengabdikan seluruh kemampuannya.

“Boleh saya bagikan ke teman-teman Bu Guru?”

“Tunggu dulu, Nurah, kita data dulu siapa di antara kalian yang betul-betul membutuhkan buku-buku itu, sebab, tidak semua temanmu membutuhkan.”

Betapapun berat beban yang dia pikul, buku-buku itu akhirnya lepas juga dari tangannya dan berpindah ke meja siswa-siswanya yang dia yakini tidak semua membutuhkan karena mereka juga sadar tingkat kegunaan buku-buku itu sangat kecil di banding standar kompetensi yang harus mereka miliki. Dan benar apa yang dia duga, seorang siswa berbaju seragam lusuh dan bersepatu tak berkaus kaki mendekatinya seraya menyerahkan tumpukan buku LKS yang sudah seminggu ini dibagikan.

“Ada apa Sapon?”

Anak itu tertunduk, tidak segera menyahut pertanyaannya. Sapon termasuk siswa yang pintar dan tidak pernah mengeluh sekali pun di kelas itu dia salah satu dari sekian siswa yang tidak beruntung dalam hal ekonomi. Tetapi kali ini pandangannya kosong, kelihatan sedang menyimpan permasalahan yang amat pelit.

“Ada masalah dengnmu, Sapon?”

“Maaf, Bu Guru. Saya kembalikan buku dan LKS ini. Sejujurnya saya sangat membutuhkannya tetapi ibuku tidak cukup uang untuk membayarnya.”

Sepi.  Dia tahu benar keadaan Sapon setelah ayahnya yang seorang penderes nira meninggal saat jatuh dari pohon kelapa yang ia panjat. Kini anak  itu sudah harus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dengan meneruskan pekerjaan sang ayah mengambil cairan gula dari setiap pucuk kelapa yang ia panjat, sementara ibunya yang buruh cuci masih harus mengasuh tiga adik Sapon yang masih kecil.

“Tidak Sapon. Kamu harus ambil buku-buku itu, nanti Ibu yang akan membereskan biaya untuk membelinya. Kamu harus membacanya, harus, tidak boleh ketinggalan teman-teman. Meskipun Ibu tahu kamu anak cerdas, tetapi tanpa buku kamu akan sangat ketinggalan. Ibu tak ingin kamu……”

“Terima kasih Bu Guru, saya sudah pikirkan apa akan terjadi pada saya seandainya saya tidak membaca buku-buku itu.”

“Nah, ambilah semuanya. Seminggu yang lalu teman-temanmu sudah mengumpulkan dana bagi Sapon, Suciati, Narsam, dan Rachmat untuk mengganti pembelian buku ini. Ini bukan kehendak Ibu, Nurahajeng dan teman-temanmu yang punya inisiatif mengumpulkan uang dari sisa uang saku mereka. Jadi ambil saja buku  dan LKSmu.”

“Saya tidak ingin merepotkan teman-teman Bu, seperti saya juga tidak ingin merepotkan ibu saya, maka saya putuskan untuk mengembalikan buku dan LKS itu.”

Sunyi, meski di luar hiruk-pikuk anak-anak laki-laki bermain futsal dan gemuruh teriakan anak-anak perempuan mermain bendera mendukung tim kelas masing-masing. Sapon berusaha menatap mata teduh di depannya, tetapi diurungkan karena mata teduh di balik kacamata minus itu ternyata juga sedang menatap tajam mukanya. Maka rusuh hatinya makin menjadi.

“Terus, apa mau Sapon?”

“Biarlah saya tetap seperti apa adanya Bu, saya bisa meminjam teman-teman untuk sekadar membaca meskipun sekilas, atau masih bisa berkunjung ke perpustakaan sekolah.”

Perempuan itu mengeleng-gelengkan kepala. Bertahun-tahun menjadi seorang guru Bimbingan Konseling, yang selalu berhadapan dengan siswa bermasalah, baru kali ini menemukan masalah unik dalam diri siswanya, Sapon. Anak yang cerdas namun terampas masa remajanya oleh nasib yang menimpanya setelah musibah yang terjadi setahun yang lalu.

“Akhirnya Ibu tidak bisa memaksamu Sapon, tetapi  pikirkanlah, Nurahajeng dan teman-temanmu sudah beritikad baik untukmu. Akan sangat kecewalah mereka seandainya tahu bahwa kamu menolaknya? Bagaimana Ibu mengatakan kepada mereka? Ibu kawatir Rachmat, Suciati, dan Narsam ikut menolaknya.”

“Bu, saya sudah tahu semuanya dan saya sudah mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, tetapi kalau saya tetap mengambil buku-buku dan LKS itu beban saya akan makin bertambah berat.”

“Baiklah, tetapi Ibu ingin kamu tetap belajar dan menjadi salah satu yang terbaik, minimal di kelas kita. Ibu sebagai wali kelas akan sangat bahagia jika Sapon mempertahankan ranking dua setelah Nurahajeng.”

“Akan saya usahakan Bu, mohon pamit.”

Tak ada yang bisa terucap dari bibir perempuan saat anak malang itu berpamitan keluar dari ruang BP. Maka dipandanginya punggung Sapon hingga hilang di balik pintu seraya berdesah, ‘pergilah anak malang, semoga langkahmu tak terjerat oleh LKS itu.

Dipandanginya buku dan LKS yang masih utuh di depannya. Betulkah lembar-lembar dalam LKS itu sudah menuntun siswa menemukan sesuatu yang dibutuhkan di dalam mencapai suatu kompetensi dasar dalam kurikulum sekolah. Ataukah hanya lembaran-lembaran kosong yang sengaja dibuat untuk mewakili guru ketika guru berhalangan hadir di kelas. Atau bahkan merupakan lahan bisnis para pengambil kebijakan untuk mendapatkan keuntungan dengan mengambil kedok musyawarah guru. Kalau itu yang dimaksud LKS, celakalah orang-orang yang telah terlibat dalam proyek penyusunan lembar kerja siswa itu.

Maka dibiarkan saja barang-barang itu teronggok di meja kerjanya. Disekanya keringat yang membasahi kacamata minusnya dengan ujung jilbabnya seraya mengucapkan istigfar berulang-ulang agar beban itu segera lepas dari tangannya.

Di luar sepi. Tinggal beberapa guru dan sejumlah siswa yang tergabung dalam kelompok KIR masih sibuk menyelesaikan tugas penelitian di ruang laborat sekolah.  Sudah tidak ada mobil di tempat parkir berarti kepala sekolah dan guru lainnya sudah pulang. Maka distarternya motor matic mungilnya agar segera tiba di rumah dan mendapatkan  buah hatinya yang baru berumur satu tahun.

“Bu, Pak Romli, bos kita itu butuh anak laki-laki untuk menjaga rumah beliau. Diutamakan anak yang memang perlu dibantu untuk dijadikan anak asuh,” kata suaminya lewat telepon genggamnya.

“Kebetulan Pak, ada siswaku yang  sangat membutuhkan bantuan itu.”

“Baik, aku segera pulang, suruh anak itu datang ke rumah sore ini, atau kita jemput ke rumahnya segera.”

Dengan perasaan berbunga-bunga untuk segera mendapatkan Sapon dan memberikan kabar gembira, perempuan itu menyongsong suaminya sebelum lelaki masuk rumah.

“Rumahnya  masuk gang sempit, mobil tidak bisa masuk, jadi kita naik motor saja Pak.”

Dan meluncurlah matic mungil membelah jalan di tengah hutan pinus. Sesekali direm mendadak demi menghindari lubang menganga karena aspal terkelupas dan menimbulkan suara menjerit dari gesekan aspal dan ban. Setelah masuk gang sempit berbatu didapatkannya rumah sangat sederhana berdinding bambu dan berlantai tanah. Dari dalamnya muncul Sapon, ibu dan adik-adiknya yang terperangah melihat gurunya sudah berada di depan pintu rumahnya yang tidak layak untuk menerima tamu sekelas Bu Niken.

“Maaf Bu Niken, saya tidak punya tempat untuk menyambut kehadiran Ibu dan Bapak, jadi silakan duduk di bangku ini.”

“Cukuplah Sapon, Bapak dan Ibu hanya ingin menyampaikan berita gembira, duduklah.”

“Begini Ibu, dan kamu Sapon,  Pak Romli, pimpinan perusahaan tempat Bapak bekerja menghendaki seorang anak asuh untuk menjaga rumah tinggal beliau di perumahan dinas. Pilihan Ibu adalah Sapon, karena Ibu melihat kamu bisa melakukan hal itu. Semua biaya sekolah dan kebutuhan ibu dan adik-adikmu akan dibantu beliau secara pribadi. Bagaimana Sapon?”

Sunyi. Sapon dan ibunya saling pandang dan kemudian keduanya saling menanggukkan kepala.

“Bagaimana Ibu? Bagaimana Sapon?  Ini tulus dari kami untuk bisa membantu Ibu dan Sapon.”

“Terima kasih Bu Niken,” diam beberapa saat meyakinkan ibunya bahwa tekadnya sudah bulat, “Ibu dan Bapak mulia sekali. Tetapi saya sudah memutuskan berhenti sekolah untuk sementara. Demi ibu dan adik-adik, saya akan pergi ke Jakarta menyusul paman yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Saya sudah pikirkan ini bersama ibu dan paman saya Bu.”

“Astagfirullah…, Sapon, tinggal setahun lagi kamu selesaikan sekolahmu di SMP, baru kamu boleh berhenti.”

“Tidak Bu, saya tidak akan putus sekolah. Saya tetap belajar sambil bekerja dengan cara saya sendiri. Saya akan bahagiakan ibu dan adik-adik saya dulu sebelum saya kembali ke sekolah. Saya yakin bisa.”

“Apa yang akan kamu kerjakan di Jakarta.”

“Saya ikut paman bekerja di pabrik kertas Bu. Doakan saya agar bisa bekerja sebaik-baiknya. Kelak jika aku sudah mendapatkan pengalaman kerja dan cukup modal, saya akan bekerjasama dengan paman untuk mendirikan pabrik kertas di sini agar bisa membantu sekolah mencetak lembar kerja siswa. Paman bilang daerah kita cukup berpotensi untuk didirikan pabrik kertas, oleh karena itu saya…”

“Apa tidak bisa diundur sampai kamu tamat dan mendapatkan Ijazah.”

“Ijazah juga kertas Bu, saya akan merasa berhasil jika sudah dapat membuat bahan baku untuk membuat kertas ijazah itu. Sekali lagi terima kasih atas perhatian Ibu dan Bapak, saya sudah membeli tiket bus malam ini.”

Plak, serasa  tamparan keras mendarat di muka perempuan itu begitu mendengar kata-kata sinistis anak itu. Merah mukanya tidak bisa disembunyikan, maka diseretnya lengan suaminya untuk segera berlalu dari tempat itu. Dalam dadanya berkecamuk seribu cacian dan umpatan. ‘Aku telah gagal menjadi pembimbing  siswa-siswaku. Aku telah gagal meyakinkan siswaku bahwa lembar kerja siswa atau mereka sebut LKS bukan satu-satunya sarana untuk mendapatkan nilai dari guru.

Cilacap, Juli 98

damai di bumi damai di hati

Agustus 19, 2010

Damai di Bumi Damai di Hati

Oleh Yonas Suharyono

………………………………….

Tiada lagi suara bising,

dentum kekejaman,

tiada lagi hati ingin

berlomba berkuasa

Hilang sudah keresahan

aman tenteram bagai di alam surgawi,

damai di hati senantiasa

harapan seluruh insani

……………………………………

Lirik di atas bukan penggalan puisi, bukan bagian dari ayat kitab suci, bukan pula bagian dari madah, melainkan penggalan dari lagu langgam keroncong gubahan Budiman B.J (almarhum) berjudul Damai di Bumi. Dengarlah, betapa merdu dan menyentuh hati saat suara lembut penyanyi Sundari Soekotjo melantunkan baris-baris melodi dari tang-ganada minor dengan deretan kata yang sangat menggugah nurani.

Seandainya, ya seandainya kata “damai” betul-betul melekat di setiap insan, terucap dari mulut yang tulus dan suara yang lembut, selembut penyanyi keroncong, o, betapa teduhnya hati. Seandainya para pemimpin, ahli agama, cerdik cendekia betul-betul mengucapkan kata “damai” dengan suara theologis, selembut bisikan malaikat, betapa sejuknya hati. Jauh dari prasangka buruk, jauh dari dentum meriam dan kengerian luar biasa. Seandainya para politikus berdamai dan tidak melulu mengeluarkan statmen yang bisa membuat orang-orang bawahan kebingungan, o, betapa indahnya dunia.

Maka, dengarlah lagu keroncong yang mendayu-dayu, merangkai nada dan lirik yang selalu saja memuji indahnya tanah air  bernama Indonesia, memuja pahlawan bangsa Indonesia, memuja Tuhan Yang Esa. Jangan hanya mendengarkan lagu Goyang Dombret, Waru Doyong, atau Mbah Dukun dan Sabu-Sabu. Yang nyanyi lagu Sabu-Sabu semoga betul-betul berhenti nyabu. Sesekali, biarlah telinga mendengarkan lagu yang merdu mendayu ‘tada lagi suara bising dentum kekejaman, tiada lagi hati ingin berlomba berkuasa’.

Biarlah jeda, hentikan provokasi yang menyesatkan umat manusia. Jangan recoki generasi muda kita dengan pernyataan yang membakar hati untuk saling membunuh, saling menikam, saling mencurigai, saling mendendam. Di bulan Ramadan yang suci ini, biarlah ‘damai’ yang dari Sang Khalik membumi, merambahi hati yang panas, menyi-ramnya dengan air kesejukan, biar hati yang panas menjadi sejuk, biar kepala yang panas menjadi teduh. Biar api membara padam oleh air kedamaian. Maka dengarlah lagu keroncong yang merdu merayu, ‘hilang sudah keresahan, aman tenteram bagai di alam surgawi, damai di hati senantiasa, harapan seluruh insani’. Damai di bumi, damai di hati. Alangkah indahnya dunia yang damai, Indonesia yang damai.

Biarlah anak-anak bermain, menikmati pagi yang cerah di negeri yang indah. Biarlah orang-orang tua bergirang, menikmati masa senjanya di negeri yang damai, aman dan tenteram. Biarlah senapan berhenti menyalak, biarlah berhenti menumpahkan timah panas pada dada tembus punggung. Biarlah muka tengadah, hati berserah, dan tangan terangkat seraya memuji Nama-Nya, memuji Keagungan-Nya. Damai di bumi, damai di hati, damai di bulan suci.  Marhaban Ya Ramadan.***

ketentuan umum festival musikalisasi puisi dan operet

April 13, 2010

KETENTUAN UMUM FESTIVAL MUSIKALISASI PUISI DAN OPERET REMAJA DALAM RANGKA JAMBORE SENI SASTRA PELAJAR

TINGKAT SMP DAN  SMA SE EKS KARESIDENAN BANYUMAS

TAHUN 2010

Pengantar dan Pencerahan:

  1. A. Musikalisasi Puisi
  • Musikalisai Puisi adalah suatu genre sastra yang menjadikan puisi sebagai media ekspresi dalam mengaktualisasikan hasil kreativitas bersastra dan mengkomunikasikannya dengan khalayak.
  • Musikalisasi puisi dalam pengertian tradisional (konvensional) adalah pembacaan puisi dengan iringan instrumen musik. Dalam pengertian ini puisi didudukkan sebagai unsur pokok (utama) sedangkan musik sebagai unsur pendukung. Masing-masing unsur terpisah dalam hal  nilai seni.
  • Musikalisasi Puisi, merujuk pada Bimbo (grup musik), F.X.Soetopo (komposer) , R.A.J.Soedjasmin (komposer KORSIK ABRI), dan Yonas S. (Musikalisasi Puisi, Metode Alternatif Pembelajaran Apresiasi Puisi/makalah), adalah bentuk penyajian musik dengan puisi sebagai unsur utama digabungkan dengan prmainan musik sebagai pendukung (mixed art/Tengsoe Tjahjono).  Puisi yang dijadikan subjek adalah puisi  bertipografi tertentu dengan pembaitan yang relatif simetris sehingga mudah dimasukkan dalam komposisi musik. Komposisi musik disusun dengan mempertimbangkan unsur intrinsik puisi, sehingga tercipta suatu komposisi harmonis antara puisi dengan musik dengan tidak merendahkan satu unsur lainnya.
  • Puisi yang simetris dari segi pembaitan dan tipografi yang sudah dimusikalisaikan dalam bentuk komposisi musik antara lain.
  1. Cintaku Jauh di Pulau, karya Chairil Anwar (musik F.X.Soetopo)
  2. Semangat (Aku), karya Chairil Anwar (musik R.A.J. Soedjasmin)
  3. Sajadah Panjang, karya Taufiq Ismail (musik Bimbo)
  4. Salju, karya Wing Kardjo (musik Bimbo)
  5. Pahlawan Tak Dikenal, karya Toto Sudharto  Bachtiar (musik Yonas S.)
  6. Sintren Getun, karya Daryono Yunani (musik Yonas S.)
  7. Berita Kepada Kawan, karya Ebiet G. Ade (musik Ebiet G. Ade)
  1. B. Operet
  • Operet adalah bentuk penampilan lakon yang memadukan unsur drama (sastra) dan musik. Dalam bentuk yang lebih besar dari segi jumlah pemain dan durasi dinamakan opera.
  • Operet memadukan unsur gerak, vokal, dan musik untuk mendukung 1certia yang dibawakannya.
  • Karena sifatnya yang sederhana dan waktu yang relatif singkat, lakon kadang tidak ditampilkan penuh, artinya pementasan hanya mengambil dari potongan (episode) tertentu dengan  jumlah pemeran terbatas. Dengan demikian tidak semua tokoh dalam cerita ditampilkan.
  • Operet bisa mengambil cerita yang berlatar kedaerahan (folkloor) atau cerita klasik yang sudah dikemas dalam bentuk mini, bisa juga cerita rekaan berlatar tertentu.
  • Berikut ini contoh operet yang sudah pernah dipentaskan
  1. Operet Kartini, karya Titik Puspa, TVRI Jakarta
  2. Opera Van Java, Trans 7, Jakarta
  3. Daun Semanggi, karya Yonas S, ditampilkan teater Pradapa SMP Negeri 1 Jeruklegi
  4. Putri Dayang Sumbi, oleh SMA Negeri 1 Lembang Bandung
  1. A. Festival Musikalisasi Puisi Untuk Siswa SMP
    1. Peserta Festival
      1. Peserta adalah 1 (satu) kelompk siswa SMP Negeri/Swasta se Eks Karesidenan Banyumas yang pada bulan Mei 2010 masih terdaftar sebagai siswa aktif (belum menduduki kelas akhir)
      2. Setiap peserta berjumlah paling banyak 12 orang terdiri dari :
  • 10 pemain (vokal & instrumen)
  • 1 orang pembina (tidak tampil)
  • 1 orang pelatih (tidak tampil)
  1. Peserta mewakili Kabupaten di Karesidenan Banyumas
  2. Materi Festival

Setiap peserta menampilkan kreasi berbentuk musikalisasi puisi dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. 1 (satu) buah puisi karya sendiri atau karya penyair lain yang sudah dipublikasikan dalam bentuk antologi baik nasional maupun berbentuk buletin sekolah
  2. Teknik dan bentuk penampilan diserahkan kepada kreativitas peserta (minimal menampilkan 1 permainan instrumen musik)
  3. Instrumen musik yang digunakan adalah instrumen akustik (nonelektrik), dan bukan berupa cakram padat atau CD.
  4. Penggunaan instrumen etnik (kedaerahan) sangat dihargai
  5. Permainan instrumen musik tidak mendominasi penampilan tetapi mendukung penyajian (pembacaan/nyanyian) puisi yang dibawakan
  6. Durasi

Penampilan peserta diberikan waktu maksimal 15 menit sudah termasuk persiapan dan penataan alat (instrumen dan mikrofon)

  1. B. Festival Operet Untuk Siswa SMA/MA/SMK
    1. Peserta Festival
      1. Peserta adalah 1 (satu) kelompk siswa SMA/MA/SMK Negeri/Swasta se Eks Karesidenan Banyumas yang pada bulan Mei 2010 masih terdaftar sebagai siswa aktif (belum menduduki kelas akhir)
      2. Setiap peserta berjumlah paling banyak 12 orang terdiri dari :
  • 10 pemain (pemain musik, vokalis, narator)
  • 1 orang pembina (tidak tampil)
  • 1 orang pelatih (tidak tampil)
  1. Peserta mewakili Komda SMA/MA/SMK se Eks Karesidenan Banyumas
  1. Materi Festival

Setiap peserta menampilkan sebuah lakon yang berlatar kedaerahan (folkloor) yang berada di sekitar peserta. Bentuk penampilan diserahkan kepada kreativitas peserta dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Adanya lakon yang berlatar (setting) kedaerahan (cerita rakyat/folkloor)
  2. Adanya pemain musik yang mendukung vokal, gerak pemeran operet
  3. Adanya penyanyi dan penari (unsur pemeran utama dan pemeran  pendamping), dan pembaca narasi
  4. Adanya instrumen musik menyatu (harmonis) dan mendukung penampilan pemain/pelaku,
  5. Adanya gerak/tari yang mendukung cerita (lakon)
  6. Durasi,

Setiap penampilan peserta disediakan waktu paling lama 25 menit termasuk penataan pentas (setting panggung).

(Keterangan lebih jelas bisa menghubungi Yonas Suharyono, SMP Negeri 1 Cilacap, HP. 081578065102/085647663998, (0282) 543415, e-mail : yonas_suharyono@yahoo.com.)

sastro genter

Januari 2, 2010

Cerpen : Yonas Suharyono

Orang-orang mengenalnya sebagai penyair beken di kota kecil itu. Tubuhnya yang tinggi jangkung terkesan kurus kering membuat lelaki itu semakin mantap dipanggil Sastro Genter. Segala yang berbau seni dan sastra dia gumuli dengan penuh minat. Mulai dari menulis puisi, cerpen, drama,  hingga musik kontemporer.

Sastro Genter adalah tipe orang yang setia kepada pekerjaan yang dia pilih, meskipun untuk itu dia harus kuat berpuasa. Di saat orang lain sibuk mengumpulkan harta, sibuk mengatur strategi agar bisa lolos daftar caleg jadi, sibuk mencari popularitas diri, hingga mendirikan partai baru, dia malah asyik dengan mesin ketik usang, radio transistor satu band, dan pesawat televisi hitam putih yang gambarnya kadang-kadang lompat-lompat.

Sastro Genter juga dikenal sebagai pelukis. Sejumlah karya sudah menghiasi teras rumah orang-orang kaya di kota itu. Ada beberapa yang masih dipajang di dinding bambu rumahnya. Ia bangga setiap kali memandang lukisan-lukisan itu, seakan dari sana akan mengalir inspirasi untuk digarap dan ditulis menjadi sebuah puisi. Maka, lengkaplah Sastro Genter sebagai seniman multidimensi, multitalent, seniman yang serba bisa.

Senja itu, dengan mengendarai sepeda kumbangnya, Sastro Genter pergi ke pantai yang letaknya di sebelah selatan kota itu. Hanya butuh setengah jam untuk menjangkau tempat itu. Sendirian dia ke sana. Dan kesendirian itulah yang selalu dia inginkan. Dia ingin menikmati deburan ombak. Dia ingin mendengar cerecet burung camar, bukan burung ‘cucak rawa’ seperti yang dipiara tetangga sebelahnya. Telinga musikalnya menangkap deburan ombak itu sebagai hingar-bingarnya simponi nomor sembilan karya Ludwig Von Beethoven yang digabung dengan cerecet camar sebagai lengkingan tenoris Luciano Pavarotti. Begitu harmonis dan mengagumkan. Dia juga menangkap nuansa ekspresinya Affandi serta impresinya Claude Monet dalam riak-riak sisa gelombang di pantai itu. Dia menikmati itu semua.

Angin senja mengibaskan ujung surjan Sastro Genter. Angin senja juga yang membawa gelombang ke pantai itu. Dia biarkan riak-riak air laut menjilati ujung jari kakinya seraya membisikkan kata : “Kau telah menempuh perjalanan begitu panjang dan melelahkan, namun Kau belum menemukan apa-apa. Kau lupa bahwa mimpi-mimpi itu tidak selalu indah, tidak selalu menjanjikan masa depan yang cerah. Kau terlalu idealis. Kau telah mendewakan imajinsai dan tidak peduli dengan kenyataan duniawi. Kau tutup telinga ketika tetangga sebelahmu mendendangkan lagu dangdut ‘Janur Kuning’, atau ‘Sakit Gigi’. Kau malah memilih ‘Kodhok Ngorek’ sebagai jelamaan minueto Mozard. Kau bergaya seolah Herbert Von Karajan di depan Berliner Philharmonic Orchestra. Ah, mana ada conductor orkestra besar mengenakan surjan lurik?”

“Ketika orang lain sibuk mencari dukungan untuk memuluskan jalan menuju kursi legislatif, ketika orang lain sibuk memasang foto diri di pusat-pusat keramaian, pinggir-pinggir jalan, Kau justru sibuk menorehkan idealisme di hamparan kanvas. Rupanya Kau lupa, kini mataharimu sudah berada di ubun-ubun, dan sebentar lagi condong ke barat. Siang diganti senja, dan senja segera beranjak pertang. Perahu dan nelayan akan merapat di dermaga. Saatnya anak gembala di belakangmu itu menggiring kerbaunya ke kandang. Akankah Kau tetap termangu di sini?”

*****

Senja beranjak petang. Semburat di langit barat, isyarat akan datangnya malam. Gembala sudah lama pulang, kerbau dan sapi sudah rebah di kandang. Sastro Genter masih tegak di tengah-tengah hamparan pasir pantai Penyu, termangu. Di langit barat masih menggelantung awan hitam kemerahan, menutup berkas cahaya matahari yang masih tersisa. Pada jingga langit itu tergambar wajah lelaki tua berperawakan tinggi kekar berdagu lebar dan alis mata yang lebat. Sorot matanya memancarkan sinar kewibawaan. Dialah R.M. Sastro Sentono, ayahnya, seorang juragan minyak yang berhasil dan sangat disegani orang-orang. Tubuh Sastro Genter terasa gemetar dan hampir roboh di hampara pasir. Dia ingin mengelak, namun tatapan mata itu begitu tajam menghunjam lubuk hatinya. Dia ingat ketika dihadapkan pada dua pilihan, masuk fakultas ekonomi atau pergi. Hatinya tak bisa menolak panggilan untuk tetap berseni, jadilah dia anak hilang, yang hingga kini belum ditemukan. Semua saudaranya sudah mempunyai perusahaan warisan ayahnya, sementara dia sendiri bergumul dengan ketidakpastian. Maka dia palingkan muka ketika bayang-bayang itu semakin mencemoohnya. Dia bahkan telah menaggalkan gelar ningrat yang pernah menempel di depan nama aslinya R.M. Sastro Wardoyo.

Sebatang pena terselip di jari-jari yang kurus. Di saku surjannya tersimpan gulungan kertas. Dalam termangu hatinya berontak dan  berbicara kepada riak-riak air sisa gelombang yang lelah setelah menyentuh ujung jari kakinya.

‘Memang aku sendiri di sini. Tetapa, apa pedulimu? Kau tidak akan berdaya melempar aku dari pasir pijakan ini. Di tengah laut sana kau memang perkasa, tetapi kau akan habis daya sebelum sampai tepian pantai ini. Angin tak akan pernah mampu membawamu merambah bukit-bukit dan ladang jagung itu. Kau bahkan tak akan pernah memahami duniaku, dunia yang ditumbuhi pohon-pohon imajinasi, yang tak tampak oleh mata tanpa hati. Jangan kau kira aku menyesali duniaku yang absurd. Aku bahkan menikmati duniaku karena dari sana kutemukan semua yang kuinginkan, yang tak pernah terjangkau oleh orang-orang sekelilingku’.

Sastro Genter masih tegak berdiri seorang lelaki tergopoh-gopoh mendekatinya.

“Den Sastro, pulanglah Den, rumah sampeyan kebakaran!”

“Apa? Rumahku kebakaran?”

Tersentaklah Sastro Genter. Bergegas ia mendapatkan sepeda kumbangnya dan mengayuhnya kuat-kuat membelah temaram petang.

“Kau tahu, dari mana asal api itu?”

“Jangan tanya sekarang Den, yang penting selamatkan dulu barang-barang Den Sastro”

“Bagaimana lukisan-lukisan yang tergantung di dinding itu?”

“Bisa diselamatkan Den, tetapi tak tahu yang di lemari”.

Ketika keduanya sampai di rumah, drama sudah usai. Sastro Genter terengah-engah. Didapatinya rumah yang sudah separo dilalap api. Asap masih mengepul di tengah-tengah perkampungan. Lelaki itu tak peduli dengan cakap orang-orang sekitarnya. Yang didengar hanyalah gemeretak bara api yang masih tersisa di antara kepulan asap. Tentu saja Ssastro Genter gusar. Bukan rumah terbakar yang disesalinya, tetapi dalam lemari hangus itu tersimpan karya-karya besar yang belum sempat dipublikasikan. Dan hanguslah mimpinya untuk menciptakan karya monumental, bersamaan padamnya api yang melalapnya.

Gemeretak kayu terbakar masih terdengar seperti sebuah simponi pada tingkat koda yang tinggal menyisakan sepenggal melodi untuk ending yang sempurna. Simponi ke sembilan Beethoven sudah tersaji dengan sempurna ketika seorang lelaki berdiri temangu. Di sela jemarinya terselip pena bertinta biru, tangan kiri menggenggam kertas bertuliskan sebait puisi :

Kutemukan diriku terpacak

di atas kanvas

hitam dan ungu

merah meleleh lampau bingkai

meraba dinding-dinding

dan menggenangi lantai pijakan hingga tumpah di tanah

basah

Kutanam benih imajinasi

di jalan perempatan

di kolong-kolong jembatan

hingga ujung kesetiaan

agar tumbuh merambah jiwa-jiwa buta

agar mimpiku tidak sia-sia.

Teluk Penyu, Mei 1986.

Musikalisasi Puisi, Metode Alternatif Pembelajaran Apresiasi Puisi

Juni 25, 2009

…………………..

Perahu melancar bulan memancar,

Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar

Angin membantu laut terang

Tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya

……………………

Bait kedua puisi Cintaku Jauh Di Pulau di atas terasa begitu bermakna ketika dinyanyikan oleh salah seorang peserta pemilihan Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional beberapa tahun lalu. Dengan kualitas vokal yang begitu prima didukung teknik yang nyaris sempurna peserta tersebut berhasil mengungkapkan makna tiap-tiap larik bahkan tiap-tiap kata puisi tersebut dengan kedalaman imajinasinya. Lonpatan interval melodi yang diambil dari tangga nada minor ikut memberi tekanan pada segi pemaknaan. Adalah FX. Soetopo yang menggubah lagu untuk puisi Chairil Anwar tersebut karena ternyata bukan saja puisi menjadi lebih bermakna, lebih dari itu, tokoh musik ini telah berhasil menepis isu masyarakat sastra bahwa puisi yang dilagukan akan kehilangan makna.

A. Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi bukan barang baru di dunia seni. Kelompok musik Bimbo, misalnya, mereka sangat ekspresif menyanyikan puisi-puisi Taufiq Ismail atau Wing Kardjo. Sebut saja puisi Dengan Puisi Aku ciptaan Taufiq Ismail telah berhasil disenandungkan dengan baik tanpa mengubah makna puisi tersebut. Atau puisi Salju karya Wing Kardjo yang begitu manis dengan iringan dentingan gitar dan sedikit orkestrasi gaya khas Bimbo. Beberapa tahun kemudian muncul Ebiet G Ade yang mengusung puisi-puisi ciptaannya ke dalam bentuk-bentuk melodi baladis. Masih banyak lagi tokoh-tokoh musik yang memusikkan puisinya seperti : Yan Hartlan dan Rita Rubi Hartlan, juga Uli Sigar Rusady.

Tentu saja tidak semua puisi dapat dimusikalisasikan. Puisi-puisi yang bertipografi tertentu tidak bisa dibangun melodi. Dalam hal ini Rene Wellek dalam Teori Kesusastraan menyebutkan, melodisasi puisi (penggunaan notasi) sulit diterapkan pada puisi yang mirip percakapan, pidato. Puisi Cintaku Jauh Di Pulau dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu tersebut di atas memungkinkan untuk dibangun melodi karena terdiri dari bait-bait dengan jumlah baris yang berpola. Pola pembaitan tersebut memudahkan komposer (penyusun musik) untuk membagi-bagi ke dalam pola birama tertentu.

Musikalisasi puisi acap kali diartikan sebagai teknik pembacaan puisi dengan iringan orkestrasi musik baik yang sederhana maupun orkes ansambel atau simponi. Musikalisasi puisi pada praktiknya baru sampai pada tahap mengiringi pembacaan puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan alat ritmik yang lain. Memang ada sebagian dari mereka sudah menyanyikannya namun belum disusun dalam bentuk teks lagu. Sedangkan musikalisasi yang sebenarya (melodisasi puisi) dalam konteks ini sudah merupakan kegiatan menyanyikan puisi total dengan memberi melodi, pola ritme, pemilihan jenis tangga nada, hingga pemberian rambu-rambu dinamik dan ekspresi pada puisi tertentu. Pada praktiknya, kegiatan menyanyikan puisi ini lebih menarik diterapkan pada sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan. Kegiatan musikalisasi puisi jenis ini ternyata diminati mereka yang ingin menggunakan cara lain dari sekadar membaca puisi. Anak-anak usia SD hingga SMU, dari tahap pengkhayal hingga tahap realistik sudah dapat diajak menyanyikan puisi, tentu saja dengan tidak menghilangkan otoritas puisi sebagai suatu karya seni. Otoritas puisi sebagai salah satu karya seni harus tetap dijaga, sehingga makna yang terkandung di dalamnya tetap utuh, tidak bergeser.

B. Mengapa Puisi Dinyanyikan?

Jika kita mencermati lagu-lagu anak-anak muda masa kini, dengan tidak mengabaikan proses kreatifitas mereka, kita dihadapkan pada ungkapan-ungkapan yang serba sederhana, polos dan vulgar. Menangkap syair dalam lagu mereka hampir tidak memerlukan energi untuk menafsirkan makna. Yang penting bagi mereka adalah pesannya capat sampai pada sasaran. Musik rap adalah satu contoh bagaimana kata-kata disusun secara sederhana, tidak perlu melalui proses kontemplasi terhadap nilai-nilai estetis. Perenungan terhadap nilai estetis itulah yang kita harapkan bisa menambah wawasan berkesenian, sekaligus sebagai sarana apresiasi terhadap suatu karya seni. Dari sinilah siswa dapat menghargai karya seni dan mempunyai kepekaan terhadap sesuatu yang indah.

Jika hal ini dapat diterapkan, tidak sia-sia FX. Soetopo dan RAJ. Soedjasmin membuat komposisi untuk dua puisi Chairil Anwar tersebut. Masalah yang dihadapi kemudian adalah, bagaimana tanggapan sastrawan khususnya penyair, terhadap gagasan melodisasi puisi ini. Pro dan kontra selalu terjadi terhadap sesuatu yang belum pernah dicobakan. Lazim atau tidak, setuju atau menolak, yang jelas tidak semua penyair mencak-mencak ketika puisinya menjadi populer ketika dinyanyikan. Ketika seorang Ebiet G Ade menyanyikan puisi-puisinya dan laris di pasaran kaset, L. Tengsoe Tjahjono berpendapat lain terhadap proses kreatif ini. Toh Ebiet, Bimbo, dan Taufiq Ismail tetap berjalan beriringan. Segi intrinsik dan otoritas puisi sebagai karya sastra tidak akan terganggu sebagaimana yang diutarakan pengamat sastra tadi. Jika ada cara lain yang lebih menarik dan diminati siswa dalam mengapresiasi puisi, mengapa tidak dicobakan dalam pembelajaran apresiasi sastra khususnya puisi. Uraian ini sekadar mencari alternatif lain cara mengapresiasi puisi disamping cara yang sudah biasa dilakukan seperti pembacaan puisi dan berdeklamasi.

C. Manfaat Yang Diperoleh

Musikalisasi puisi yang dimaksud pada buku ini bukan sekadar membacakan puisi dengan diiringi permainan musik seperti kebanyakan orang melakukannya, tetapi sudah melibatkan penggunaan unsur-unsur musik antara lain : melodi, irama/ritme, harmoni, yang diwujudkan dalam bentuk lembaran musik (partitur).

Untuk lebih memudahkan penyampaian kepada siswa dan guru yang tidak terbiasa membaca notasi balok maupun angka, guru bisa memanfaatkan kaset rekaman yang mudah di dapat. Guru bersama-sama siswa tentu akan lebih mudah melakukan apresiasi puisi dari media tersebut dibandingkan sekadar membacakannya. Untuk melengkapi bahan apresiasi, guru bisa mengumpulkan media serupa yang diambil dari kaset lagu-lagu Bimbo, Ebiet G Ade, Rita Rubbi Hartlan, dan lain-lain.

1. Bentuk Karya

Bentuk fisik karya Musikalisasi Puisi ini ada 2 (dua), yakni teks lagu (partitur) dan media Compact Disk (CD) atau kaset yang berisi rekaman puisi yang dibacakan dan dilagukan.

a. Partitur musik : adalah teks lagu yang berisikan puisi-puisi yang diaransemen ke dalam bentuk lembaran musik yang berupa : melodi, irama/ritme, dan harmoni, (teks terlampir)

b. Compact Disk atau kaset rekaman : adalah hasil rekaman pembacaan puisi dan nyanyian yang diambil dari puisi yang sudah dibacakan.

Kedua bentuk fisik tersebut akan sangat membantu baik guru maupun siswa dalam mengapresiasi sebuah puisi.

Karya ini bermanfaat tidak saja bagi siswa dan guru, tetapi juga bagi komunitas pencinta sastra khususnya apresian puisi.

2. Manfaat bagi siswa

a. mudah menghafal puisi mulai dari pembaitan hingga tipografi puisi,

b. mudah memahami isi puisi dari penggunaan tangga nada dan pola ritme,

c. memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih cara yang paling mudah untuk mengapresiasi puisi,

d. memberikan tambahan khasanah lagu baru di samping lagu-lagu yang sudah biasa dinyanyikan,

e. mengajari siswa untuk menhargai karya orang lain,

f. mengajari siswa untuk bersikap positif,

3. Manfaat bagi guru

a. memudahkan guru untuk mengajarkan pembelajaran apresiasi puisi,

b. memberikan variasi pilihan/alternatif pembelajaran puisi di kelas,

c. memancing guru untuk kreatif dan inovatif dalam pembelajaran sastra dan Bahasa Indonesia pada umumnya,

d. memperkaya khasanah lagu bagi guru,

4. Manfaat bagi pencinta/apresian

a. memberikan pilihan alternatif bagi apresian untuk mengapresiasi puisi,

b. memancing kreativitas para pencinta sastra untuk mengembangkan daya imajinasinya,

5. Dampak/Pengaruh Yang Diharapkan

Dampak dan pengaruh yang ditimbulkan dari mengapresiasi karya sastra ini adalah :

1. Bagi siswa :

  • Ø siswa lebih menyenangi pembelajaran sastra,
  • Ø terbentuknya sikap dan moral siswa untuk menghargai karya orang lain, menghargai alam ciptaan Tuhan, mencintai kedamaian, dll,
  • Ø siswa mendapatkan pengalaman baru dari mengapresiasi puisi,

2. Bagi guru :

  • Ø guru lebih kreatif dalam memberikan pembelajaran apresiasi sastra,
  • Ø guru lebih menyenangi pembelajaran apresiasi sastra,
  • Ø guru merasa lebih yakin memberikan pembelajaran di depan kelas,

Dampak yang langsung dirasakan baik bagi siswa maupun guru adalah terciptanya iklim yang sejuk dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang menggunakan pendekatan komunikatif bisa langsung dirasakan oleh guru maupun siswa.

Metode Musikalisasi Puisi ini sifatnya universal dan sangat fleksibel dalam penerapannya. Semua jenjang pendidikan, mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA tentulah mendapatkan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, oleh karena itu sangat tepat jika metode ini diterapkan. Tentu saja puisi-puisi yang dijadikan bahan apresiasi serta tingkat kesulitan lagunya disesuaikan dengan usia jenjang pendidikan.

D. Bagaimana Metode Musikalisasi Puisi Diterapkan?

Tentu tidak semua guru bahasa Indonesia dapat menerapkan metode ini karena tidak semua guru bahasa bisa menyanyi apalagi mengajarkanya kepada siswa siswa. Cara paling mudah adalah mendengarkan hasil rekaman yang berisi puisi-puisi yang sesuai untuk diajarkan di jenjang pendidikan tertentu. Puisi-puisi Taufiq Ismail dan Wing Kardjo yang penulis sebutkan di atas sesuai untuk usia SMP dan SMA dengan pertimbangan bahwa puisi tersebut mudah untuk dipahami maknanya. Hasil rekaman berbentuk kaset sudah lama dikenal orang. Cara kedua yakni dengan melibatkan guru kesenian yang ada untuk mengajarkan bagaimana mengajarkan membaca notasi dan melagukannya. Tahap pemaknaan tetap dilakukan oleh guru bahasa bersangkutan. Puisi Cintaku Jauh Di Pulau atau Aku (Semangat) karya Chairil Anwar sudah digubah dalam bentuk lagu oleh FX. Soetopo dan RAJ. Soedjasmin. Kedua puisi tersebut, menurut Situmorang sesuai diajarkan untuk tingkat SMU.

Untuk mendukung penerapa teknik musikalisasi puisi perlu sedikit penguasaan unsur-unsur musik secara umum. Unsur-unsur musik yang dimaksud adalah : nada, melodi, irama, harmoni, serta unsur pendukung lain seperti ekspresi, dinamika, serta bentuk lagu.

1. Nada

Nada merupakan bagian terkecil dari lagu. Nada (tone) dalam pengertian musik adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian tertentu. Nada dalam tangga nada diatonis mempunyai jarak interval tertentu juga. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur dasar.

2. Melodi

Nada-nada (tone) di atas akan bermakna jika disusun secara horizontal dengan lompatan-lompatan (interval) tertentu. Nada-nada yang disusun secara horizontal dengan lompatan (interval) tertentu itu dinamakan melodi. Melodi inilah yang kemudian menjadi kalimat lagu dan terdiri dari frase-frase serta tema tertentu. Deretan melodi kemudian menjadi lagu.

3. Irama

Irama menentukan bentuk lagu. Irama di dalam musikalisasi puisi menjadi sangat penting untuk memberi jiwa dari puisi yang diapresiasi. Puisi yang bersemangat seperti “Aku”-nya Chairil Anwar menjadi lebih bermakna dengan penggunaan birama 4/4 dengan tempo sedang serta perubahan tempo accelerando (dipercepat) dan rittardando (diperlambat). Birama (sukat) adalah (angka pecahan : 2/4, ¾, 4/4, 6/8, 9/8) yang merupakan petunjuk akan jiwa lagu. Puisi-puisi baladis Ebiet G Ade kebanyakan menggunakan birama 4/4, sedangkan puisi-puisi religius Taufiq Ismail digubah Bimbo dengan birama ¾. Meskipun birama ¾ kebanyakan digunakan untuk lagu-lagu walz, tetapi ternyata serasi dengan puisi religius dengan orkestrasi versi Bimbo.

4. Tangga nada

Penggunaan tangga nada berpengaruh besar terhadap penjiwaan puisi. Di dalam musik tangga nada diatonis (terdiri 7 nada pokok dan 5 nada sisipan) merupakan tangga nada yang banyak dipakai dalam musikalisasi puisi, sedangkan tangga nada pentatonic lebih banyak dipakai dalam seni musik tradisional jawa (karawita) seperti macapatan. Penggunaan tangganada minor dipakai untuk puisi-puisi atau lagu yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka, pesimistis. Sajak “Cintaku Jauh Di Pulau”-nya Chairil Anwar sangat sesuai dengan tangga nada minor, sedangkan “Semangat”-nya Chairil Anwar lebih gagah dengan menerapkan tangga nada mayor yang lebih dekat dengan jiwa optimis, gagah, berani, riang, gembira.

Lagu-lagu yang menggunakan tangga nada mayor memang kebanyakan bersemangat, optimistis, dan riang, sedangkan penggunaan tangga nada minor lazimnya digunakan untuk lirik-lirik yang melankolis, pesimistis, duka, lara. Dalam seni musik, tangga nada mayor dan minor kadang-kadang digunakan dalam satu lagu. Lagu “Sepasang Mata Bola”, ciptaan Ismail Marzuki merupakan salah satu contoh penggunaan tangga nada minor. Awal lagu itu menggunakan tangga nada minor sesuai dengan lirik bait 1 dan 2, sedangkan pada bait refrain (bait yang sering diulangi) menggunakan tangga nada mayor.

Tangga nada pentatonic (5 nada pokok) kebanyakan digunakan dalam seni musik tradisional (seni karawitan). Namun demikian tangga nada ini juga sering mewarnai penggunaan tangga nada diatonis minor, terutama laras pelog yang memang bias disejajarkan dengan tangga nada diatonis.

5. Tempo

Tempo menentukan karakter lagu. Tempo secara umum adalah sesuatu yang berhubungan dengan cepat lambatnya lagu dinyanyikan (musik dimainkan). Dalam permainan musik, tempo dinyatakan dengan tanda yang merupakan rambu-rambu yang harus ditepati dalam menyanyikan lagu. Pengelompokan tempo terdiri dari golongan tempo cepat, tempo sedang, tempo lambat, serta perubahannya. Kecepatan lagu diukur dengan alat pengukur yang disebut Metronome buatan Maelzel. Metronome ini yang akan memberikan petunjuk seberapa cepat dan seberapa lambat lagu dinyanyikan.

6. Tempo lambat

Lento = lambat

Adagio = lambat sedang

Largo = lambat sekali

7. Tempo sedang

Andante = seperti orang berjalan

Moderato = sedang

8. Tempo cepat

Allegro = cepat

Allegretto = agak cepat

Presto = sangat cepat.

9. Tempo perubahan

Rittenuto (ritt) = dipercepat

Accelerando (accel) = diperlambat

A tempo (tempo primo) = kembali ke tempo semula.

6. Dinamik

Kadangkala suatub lagu dinyanyikan dengan sangat lembut pada awal penyajian, kemudian berangsur-angsur keras, atau mendadak keras, kembali melembut pada bagian tertentu, kemudian mengeras atau melembut pada bagian akhir (ending). Perubahan keras-lembutnya lagu ini akan memberikan nuansa penjiwaan pada penyajian lagu. Di dalam musik, keras lembutnya lagu ini ditandai dengan rambu-rambu dinamik, sedangkan tanda-tandanya disebut tanda dinamik yang berupa istilah maupun tanda (signal). Rambu-rambu dinamik itu ditulis di bagian-bagian lagu yang memerlukan perubahan keras-lembut.

Sekadar gambaran, secara garis besar dinamik dibagi menjadi 2 bagian yakni :

a. Tanda dinamik keras :

f = forte, berarti keras

ff = fortissimo, berarti sangat keras

fff = fortissimo assai, berarti sekeras-kerasnya

mf = mezzoforte, setengah keras.

Keterangan : batas antara forte dan fortissimo, serta fortissimo assai relatif kecil, karena di dalam musik vocal batas dinamik tersebut tidak dapat diukur dengan alat.

b. Tanda dinamik lembut :

p = piano, berarti lembut

pp = pianissimo, berarti sangat lembut

ppp = pianissimo possible, berarti selembut-lembutnya

mp = mezzopiano, setengah lembut.

Keterangan : batas antara piano dan pianissimo, serta pianissimo possible relatif kecil, karena di dalam musik vocal batas dinamik tersebut tidak dapat diukur dengan alat.

c. Perubahan dinamik :

Perubahan dinamik dibimbing dengan penggunaan tanda (signal) atau istilah pada bagian lagu yang memerlukan perubahan. Tanda-tanda tersebut antara lain :

< : crescendo, berarti menjadi keras

> : decrescendo, berarti menjadi lembut

<> : meza di voce, berarti menjadi keras kemudian kembali menjadi lembut dalam satu frase,

7. Ekspresi

Ekspresi menjadi bagian terpenting dalam menyajikan sebuah lagu. Keberhasilan menterjemahkan karya seni musik menjadi tantangan terbesar bagi seorang penyanyi dalam membawakan sebuah lagu. Dalam lembaran musik, ekspresi selain timbul secara alamiah dari seorang penyanyi (internal), juga dapat dituntun dengan tanda (signal) berupa istilah, ungkapan dalam bahasa asing. Istilah ekspresi itu lazimnya ditulis pada bagian awal lagu setelah tanda birama (sukat), tetapi kadangkala juga ditulis di bagian tengah lagu yang memerlukan perubahan ekspresi. Lagu “Cintaku Jauh Di Pulau”, karya Chairil Anwar, digubah ke dalam lagu oleh F.X. Soetopo dengan membubuhkan tanda ekspresi Andante Con Expresivo, yang merupakan gabungan dari tanda tempo Andante, berarti pelan, dan Con Expresivo, berarti dengan penuh ekspresi. Tentu saja setiap lagu mempunyai ekspresi berbeda tergantung isi/tema puisi/liriknya.

8. Harmoni

Harmoni menjadi sangat dibutuhkan ketika musikalisasi puisi sudah sampai pada tahap orkestrasi yang melibatkan unsur instrumen musik iringan. Pada tahap ini peran iringan adalah memadukan unsur melodi, ritme, tempo, dinamik, serta ekspresi lagu. Harmoni selalu dikaitkan dengan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara unsur yang satu dengan lainnya. Di dalam musik, harmoni juga berarti keselarasan antara unsur-unsur musik. Pada seni musik karawitan Jawa, harmoni sering dikaitkan dengan istilah ‘nges’, yaitu rasa musikal yang memadukan antarunsur, sedangkan dalam musik umum, selain ‘nges’, harmoni juga berarti keterpaduan antara nada satu dengan nada yang lain.

Pengertian praktis dan sederhana, harmoni dalam musik diatonis adalah dua nada atau lebih (dwinada, trinada) pada tangga nada diatonis dibunyikan secara bersamaan yang menghasilkan perpaduan nada yang harmonis. Perkembangan berikutnya, gabungan nada-nada tersebut dikelompokkan menjadi tingkata-tingkatan akor (harmoni) yang kelak akan sangat memberi dukungan pada penyajian lagu.

Pada praktik penyajian musikalisasi puisi, peran harmoni ini ditumpukan kepada instrumen harmonis, seperti (yang paling ringan) adalah gitar. Gitar merupakan alat paling sederhana dan relatif mudah dalam membentuk harmoni dalam musikalisasi puisi. Pada tingkat yang lebih sulit dan relatif mahal, peran gitar biasanya digantikan oleh piano, harpa, atau ansambel, bahkan orkes besar seperti simponi. Rambu-rambu harmoni pada tulisan musik (partitur) biasanya sudah ditulis oleh penyusun komposisi, namun dalam musikalisasi puisi, rambu-rambu itu bukan harga mati, artinya pelaku musikalisasi puisi dapat membuat variasi hiasan (ornamentasi) musikal sejauh masih dalam batas wajar dan enak dinikmati dari segi audio.

Penggunaan harmoni manual pada piano untuk musikalisasi puisi sering kita dengarkan pada penyajian lagu-lagu seriosa Indonesia seperti festival pemilihan bintang radio dan televisi tahun-tahun 80-an, sedangkan Bimbo, Ulli Sigar Rusady, Ebiet G Ade, banyak menggunakan gitar dan orkestrasi.

9. Bentuk Lagu

Bentuk lagu yang dimaksud adalah komposisi lagu secara tertulis/tekstual. Bentuk lagu akan tergantung kepada tipografi lirik yang diikutinya. Kalimat lagu akan disesuaikan dengan struktur pembaitan puisi yang dimusikkan. Puisi lama seperti pantun, seloka, gurindam yang mempunyai struktur pembaitan baku akan lebih mudah untuk dibentuk kalimat lagu, namun bukan berarti puisi baru dengan tipografi yang tidak jelas pembaitannya tidak bias dibuat lagu. Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bacri bahkan bias dibuat komposisi musik.

Pada sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar, pembaitannya cukup membantu untuk dibuat komposisi lagu. Struktur kalimat lagu menjadi mudah dipolakan. Sedangkan sajak “Semangat”, yang kemudian diubah menjadi “Aku” oleh pengarangnya sendiri Chairil Anwar begitu sulit memolakan pembaitan musik, namun demikian R.A.J.Soedjasmin, penggubah lagu untuk sajak tersebut begitu manis dan rapi menyusun kalimat lagunya sehingga sajak tersebut menjadi lebih bermakna ketika dinyanyikan.

E. Tahap-tahap Pembelajaran Musikalisasi Puisi

  1. Tahap Pembacaan Puisi

Pada tahap pembacaan puisi ini, siswa diajak membaca puisi secara keseluruhan dengan memperhatikan teknik baca puisi. Salah satu siswa diberi tugas membaca puisi dengan teknik yang sudah pernah diajarkan dengan memperhatikan nada, irama, rima, intonasi, serta artikulasi yang tepat. Dipilih puisi yang pendek serta relatif mudah memahami isi yang terkandung di dalamnya. Puisi yang bertemakan pahlawan sangat disenangi oleh anak-anak usia SD sampai SMP, ambillah contoh sajak “Karangan Bunga” karya Taufiq Ismail atau sajak “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudharto Bachtiar. Pengamatan guru (pengamat) dipusatkan selain pada teknik pembacaan puisi juga pada sikap, minat, serta motivasi siswa dalam mendengarkan pembacaan puisi tersebut. Jika terdapat kegaduhan atau ketidakacuhan siswa berarti siswa tidak berminat terhadap teknik seperti ini, walaupun demikian kegiatan ini harus tetap dilangsungkan. Dalam memberikan motivasi terhadap siswa, seyogianya dihindarkan cara-cara pemaksaan dan tugas terlalu berat karena akan semakin menjauhkan siswa dari puisi.

  1. Tahap membaca nada dan melodi

Kegiatan inti dari musikalisasi puisi adalah mengekspresikan puisi dengan menyanyikan bait-bait puisi yang diapresiasi. Disebutkan di depan bahwa kegiatan paling mudah dalam mengapresiasi puisi melalui metode musikalisasi puisi adalah mendengarkannya dari kaset rekaman, VCD, atau perangkat elektronik lainnya. Dewasa ini sangat mudah mencari rekaman grup Bimbo, Ebiet G Ade, atau grup-grup musik lain dengan mengambil dari internet (download), jika sulit menemukan rekaman dalam bentuk kaset. Namun demikian, akan lebih lengkap jika kepada siswa juga disajikan teks lagu (partitur musik) dari puisi yang diapresiasi. Dalam hal ini, (seandainya guru bahasa Indonesia tidak terampil membaca notasi musik), dapat melibatkan guru musik yang mempunyai kompetensi di dalam membaca nada/melodi lagu.

Tahap membaca nada/melodi ini seperti layaknya mengajarkan lagu dengan menggunakan notasi, baik notasi balok maupun notasi angka. Karena kepentingannya untuk menyanyikan lagu, lebih baik menggunakan notasi angka. Selain efisien, juga mudah mengajarkannya. Baris demi baris siswa diajak menyanyikan melodi dengan teknik solmisasi, hingga keseluruhan lagu. Pada tahap ini akan dijumpai perubahan sikap siswa, dan pengamat seyogianya mencatat setiap perubahan, perkembangan yang dialami siswa (apresian).

  1. Tahap menyanyikan puisi

Jika melodi lagu sudah dikuasai, tahap berikutnya adalah menyanyikan puisi sesuai melodi. Kegiatan ini dilakukan dengan membagi dua kelompok. Kelompok satu menyanyikan melodi, sedangkan kelompok lainnya menyanyikan syairnya secara bergantian.

  1. Tahap memaknai isi puisi

Menjelang akhir pembelajaran siswa diajak untuk mendengarkan (mengapresiasi) puisi yang sudah dinyanyikan dari kaset rekaman (Bimbo, Ebiet G Ade, buatan MGMP). Kemudian pengalaman apa yang diperoleh siswa setelah mendengarkan (atau bahkan melakukan sendiri) melodisasi puisi.

E. Kendala Yang Dihadapi

Setiap metode pembelajaran selalu dihadapkan pada masalah dalam penerapannya. Kendala yang dihadapi dalam metode pembelajaran melagukan puisi ini adalah tidak semua guru bisa membaca melodi. Jika demikian yang terjadi, guru bahasa perlu melibatkan guru seni musik yang ada untuk mengajarkan lagu, sedangkan segi pemaknaan adalah hak guru bahasa. Cara paling mudah adalah dengan mendengarkan kaset lagu-lagu yang berisi puisi-puisi, seperti : Bimbo dengan puisi Taufiq Ismail dan Wing Kardjo, Ebiet G Ade dengan puisi-puisinya, dan lain-lain.

Pada bagian akhir tulisan ini, penulis melampirkan teks/partitur berjudul Cintaku Jauh di Pulau, karya Chairil Anwar yang digubah kedalam bentuk lagu oleh FX. Soetopo. Semoga tulisan ini berguna dan bisa dicobakan di sekolah-sekolah.

F. Penutup

Untuk memperoleh hasil yang maksimal, metode pembelajaran melodisasi puisi ini perlu diujicobakan baik di tingkat SD, SLTP dan SMU, mulai tahap mengkhayal hingga pada tahap realistik. Metode ini memang memerlukan keterampilan khusus, terutama kepekaan terhadap nilai seni atau nilai estetika dari para guru bahasa pada umumnya dan bahasa Indonesia khususnya. Penulis juga menyadari, bahwa semua metode memang memerlukan waktu panjang untuk bisa diterapkan, apalagi metode pembelajaran melodisasi puisi ini masih baru dan jarang mendapatkan perhatian dari para guru bahasa mengingat tidak semua guru bahasa mempunyai minat dan perhatian kepada seni musik. Akhirnya, penulis berharap tulisan ini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pembelajaran sastra yang selama ini baru mendapatkan porsi yang relatip sedikit.

Hello world!

Juni 25, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!