sastro genter

Cerpen : Yonas Suharyono

Orang-orang mengenalnya sebagai penyair beken di kota kecil itu. Tubuhnya yang tinggi jangkung terkesan kurus kering membuat lelaki itu semakin mantap dipanggil Sastro Genter. Segala yang berbau seni dan sastra dia gumuli dengan penuh minat. Mulai dari menulis puisi, cerpen, drama,  hingga musik kontemporer.

Sastro Genter adalah tipe orang yang setia kepada pekerjaan yang dia pilih, meskipun untuk itu dia harus kuat berpuasa. Di saat orang lain sibuk mengumpulkan harta, sibuk mengatur strategi agar bisa lolos daftar caleg jadi, sibuk mencari popularitas diri, hingga mendirikan partai baru, dia malah asyik dengan mesin ketik usang, radio transistor satu band, dan pesawat televisi hitam putih yang gambarnya kadang-kadang lompat-lompat.

Sastro Genter juga dikenal sebagai pelukis. Sejumlah karya sudah menghiasi teras rumah orang-orang kaya di kota itu. Ada beberapa yang masih dipajang di dinding bambu rumahnya. Ia bangga setiap kali memandang lukisan-lukisan itu, seakan dari sana akan mengalir inspirasi untuk digarap dan ditulis menjadi sebuah puisi. Maka, lengkaplah Sastro Genter sebagai seniman multidimensi, multitalent, seniman yang serba bisa.

Senja itu, dengan mengendarai sepeda kumbangnya, Sastro Genter pergi ke pantai yang letaknya di sebelah selatan kota itu. Hanya butuh setengah jam untuk menjangkau tempat itu. Sendirian dia ke sana. Dan kesendirian itulah yang selalu dia inginkan. Dia ingin menikmati deburan ombak. Dia ingin mendengar cerecet burung camar, bukan burung ‘cucak rawa’ seperti yang dipiara tetangga sebelahnya. Telinga musikalnya menangkap deburan ombak itu sebagai hingar-bingarnya simponi nomor sembilan karya Ludwig Von Beethoven yang digabung dengan cerecet camar sebagai lengkingan tenoris Luciano Pavarotti. Begitu harmonis dan mengagumkan. Dia juga menangkap nuansa ekspresinya Affandi serta impresinya Claude Monet dalam riak-riak sisa gelombang di pantai itu. Dia menikmati itu semua.

Angin senja mengibaskan ujung surjan Sastro Genter. Angin senja juga yang membawa gelombang ke pantai itu. Dia biarkan riak-riak air laut menjilati ujung jari kakinya seraya membisikkan kata : “Kau telah menempuh perjalanan begitu panjang dan melelahkan, namun Kau belum menemukan apa-apa. Kau lupa bahwa mimpi-mimpi itu tidak selalu indah, tidak selalu menjanjikan masa depan yang cerah. Kau terlalu idealis. Kau telah mendewakan imajinsai dan tidak peduli dengan kenyataan duniawi. Kau tutup telinga ketika tetangga sebelahmu mendendangkan lagu dangdut ‘Janur Kuning’, atau ‘Sakit Gigi’. Kau malah memilih ‘Kodhok Ngorek’ sebagai jelamaan minueto Mozard. Kau bergaya seolah Herbert Von Karajan di depan Berliner Philharmonic Orchestra. Ah, mana ada conductor orkestra besar mengenakan surjan lurik?”

“Ketika orang lain sibuk mencari dukungan untuk memuluskan jalan menuju kursi legislatif, ketika orang lain sibuk memasang foto diri di pusat-pusat keramaian, pinggir-pinggir jalan, Kau justru sibuk menorehkan idealisme di hamparan kanvas. Rupanya Kau lupa, kini mataharimu sudah berada di ubun-ubun, dan sebentar lagi condong ke barat. Siang diganti senja, dan senja segera beranjak pertang. Perahu dan nelayan akan merapat di dermaga. Saatnya anak gembala di belakangmu itu menggiring kerbaunya ke kandang. Akankah Kau tetap termangu di sini?”

*****

Senja beranjak petang. Semburat di langit barat, isyarat akan datangnya malam. Gembala sudah lama pulang, kerbau dan sapi sudah rebah di kandang. Sastro Genter masih tegak di tengah-tengah hamparan pasir pantai Penyu, termangu. Di langit barat masih menggelantung awan hitam kemerahan, menutup berkas cahaya matahari yang masih tersisa. Pada jingga langit itu tergambar wajah lelaki tua berperawakan tinggi kekar berdagu lebar dan alis mata yang lebat. Sorot matanya memancarkan sinar kewibawaan. Dialah R.M. Sastro Sentono, ayahnya, seorang juragan minyak yang berhasil dan sangat disegani orang-orang. Tubuh Sastro Genter terasa gemetar dan hampir roboh di hampara pasir. Dia ingin mengelak, namun tatapan mata itu begitu tajam menghunjam lubuk hatinya. Dia ingat ketika dihadapkan pada dua pilihan, masuk fakultas ekonomi atau pergi. Hatinya tak bisa menolak panggilan untuk tetap berseni, jadilah dia anak hilang, yang hingga kini belum ditemukan. Semua saudaranya sudah mempunyai perusahaan warisan ayahnya, sementara dia sendiri bergumul dengan ketidakpastian. Maka dia palingkan muka ketika bayang-bayang itu semakin mencemoohnya. Dia bahkan telah menaggalkan gelar ningrat yang pernah menempel di depan nama aslinya R.M. Sastro Wardoyo.

Sebatang pena terselip di jari-jari yang kurus. Di saku surjannya tersimpan gulungan kertas. Dalam termangu hatinya berontak dan  berbicara kepada riak-riak air sisa gelombang yang lelah setelah menyentuh ujung jari kakinya.

‘Memang aku sendiri di sini. Tetapa, apa pedulimu? Kau tidak akan berdaya melempar aku dari pasir pijakan ini. Di tengah laut sana kau memang perkasa, tetapi kau akan habis daya sebelum sampai tepian pantai ini. Angin tak akan pernah mampu membawamu merambah bukit-bukit dan ladang jagung itu. Kau bahkan tak akan pernah memahami duniaku, dunia yang ditumbuhi pohon-pohon imajinasi, yang tak tampak oleh mata tanpa hati. Jangan kau kira aku menyesali duniaku yang absurd. Aku bahkan menikmati duniaku karena dari sana kutemukan semua yang kuinginkan, yang tak pernah terjangkau oleh orang-orang sekelilingku’.

Sastro Genter masih tegak berdiri seorang lelaki tergopoh-gopoh mendekatinya.

“Den Sastro, pulanglah Den, rumah sampeyan kebakaran!”

“Apa? Rumahku kebakaran?”

Tersentaklah Sastro Genter. Bergegas ia mendapatkan sepeda kumbangnya dan mengayuhnya kuat-kuat membelah temaram petang.

“Kau tahu, dari mana asal api itu?”

“Jangan tanya sekarang Den, yang penting selamatkan dulu barang-barang Den Sastro”

“Bagaimana lukisan-lukisan yang tergantung di dinding itu?”

“Bisa diselamatkan Den, tetapi tak tahu yang di lemari”.

Ketika keduanya sampai di rumah, drama sudah usai. Sastro Genter terengah-engah. Didapatinya rumah yang sudah separo dilalap api. Asap masih mengepul di tengah-tengah perkampungan. Lelaki itu tak peduli dengan cakap orang-orang sekitarnya. Yang didengar hanyalah gemeretak bara api yang masih tersisa di antara kepulan asap. Tentu saja Ssastro Genter gusar. Bukan rumah terbakar yang disesalinya, tetapi dalam lemari hangus itu tersimpan karya-karya besar yang belum sempat dipublikasikan. Dan hanguslah mimpinya untuk menciptakan karya monumental, bersamaan padamnya api yang melalapnya.

Gemeretak kayu terbakar masih terdengar seperti sebuah simponi pada tingkat koda yang tinggal menyisakan sepenggal melodi untuk ending yang sempurna. Simponi ke sembilan Beethoven sudah tersaji dengan sempurna ketika seorang lelaki berdiri temangu. Di sela jemarinya terselip pena bertinta biru, tangan kiri menggenggam kertas bertuliskan sebait puisi :

Kutemukan diriku terpacak

di atas kanvas

hitam dan ungu

merah meleleh lampau bingkai

meraba dinding-dinding

dan menggenangi lantai pijakan hingga tumpah di tanah

basah

Kutanam benih imajinasi

di jalan perempatan

di kolong-kolong jembatan

hingga ujung kesetiaan

agar tumbuh merambah jiwa-jiwa buta

agar mimpiku tidak sia-sia.

Teluk Penyu, Mei 1986.

2 Tanggapan to “sastro genter”

  1. Erna Dwi Yuli Astuti Says:

    hmmm……terbuka mataku… sebuah cerminan, menjadi diri sendiri dg idealisme yang tak terpengaruh apapun, masih adakah sosok seperti dia ditengah masyarakat yang berpikir praktis, konsumtif, materialistis….

  2. yonasuharyono Says:

    trims atas komentar Anda… Anda juga punya imajinasi kuat seperti den sastro… sayang, orang-orang di samping Anda tidak bisa menangkap itu semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: