elkaes

ELKAES

Cerpen : Yonas Suharyono

Matahari Bulan Juli semestinya sudah berada di sebelah utara katulistiwa, sehingga sengatan panasnya sudah tidak begitu tajam di ubun-ubun. Semestinya  angin tenggara bertiup sepoi-sepoi dan terus menerus berhembus sehingga panas yang terpancar dari sang mentari bisa dihalau dengan kesejukannya. Tetapi tidak bagi perempuan itu. Siang ini sinar matahari begitu terik menyengat tubuhnya yang berbalut seragam keki khas pegawai negeri.  Kerudung putihnya menambah kesan teduh di wajahnya yang memang memancarkan aura seorang muslimah yang taat beribadah. Tetapi resah hatinya telah mengubah  mata yang teduh itu menjadi rusuh. Dia tak bisa menyembunyikan dengan senyum seramah apa pun ketika Nurahajeng, siswa kelas VIII B berusaha menyambutnya dengan ramah, khas sambutan seorang gadis.

“Selamat siang, Bu Niken…”

“Selamat siang, Nurah”.

“Boleh Nurah bantu angkat bawaan Ibu?”

Sejenak perempuan itu menatap mata siswa kesayangannya, lalu tersenyum ramah. Dan  berpindahlah tumpukan buku-buku  ke tangan gadis lincah itu. Sebongkah beban lepas dari gayutan tangannya, tetapi berbongkah-bongkah lagi masih menyenak dalam dadanya. Dan inilah beban hidup paling berat yang selama bertahun-tahun  tidak pernah bisa diatasinya. Sebagai seorang guru dia harus berada pada posisi strategis bagi perkembangan kecerdasan peserta didiknya yang memang sangat membutuhkan jamahan tangannya. Di lain pihak dia harus tunduk kepada kebijaksanaan atasan yang kadang tidak sejalan dengan hati nuraninya. Sebagai  seorang agen pembelajaran dia harus berada di antara kebutuhan siswanya yang memang beragam dan kebijakan pimpinan untuk pengembangan institusi pendidikan tempat dimana dia mengabdikan seluruh kemampuannya.

“Boleh saya bagikan ke teman-teman Bu Guru?”

“Tunggu dulu, Nurah, kita data dulu siapa di antara kalian yang betul-betul membutuhkan buku-buku itu, sebab, tidak semua temanmu membutuhkan.”

Betapapun berat beban yang dia pikul, buku-buku itu akhirnya lepas juga dari tangannya dan berpindah ke meja siswa-siswanya yang dia yakini tidak semua membutuhkan karena mereka juga sadar tingkat kegunaan buku-buku itu sangat kecil di banding standar kompetensi yang harus mereka miliki. Dan benar apa yang dia duga, seorang siswa berbaju seragam lusuh dan bersepatu tak berkaus kaki mendekatinya seraya menyerahkan tumpukan buku LKS yang sudah seminggu ini dibagikan.

“Ada apa Sapon?”

Anak itu tertunduk, tidak segera menyahut pertanyaannya. Sapon termasuk siswa yang pintar dan tidak pernah mengeluh sekali pun di kelas itu dia salah satu dari sekian siswa yang tidak beruntung dalam hal ekonomi. Tetapi kali ini pandangannya kosong, kelihatan sedang menyimpan permasalahan yang amat pelit.

“Ada masalah dengnmu, Sapon?”

“Maaf, Bu Guru. Saya kembalikan buku dan LKS ini. Sejujurnya saya sangat membutuhkannya tetapi ibuku tidak cukup uang untuk membayarnya.”

Sepi.  Dia tahu benar keadaan Sapon setelah ayahnya yang seorang penderes nira meninggal saat jatuh dari pohon kelapa yang ia panjat. Kini anak  itu sudah harus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dengan meneruskan pekerjaan sang ayah mengambil cairan gula dari setiap pucuk kelapa yang ia panjat, sementara ibunya yang buruh cuci masih harus mengasuh tiga adik Sapon yang masih kecil.

“Tidak Sapon. Kamu harus ambil buku-buku itu, nanti Ibu yang akan membereskan biaya untuk membelinya. Kamu harus membacanya, harus, tidak boleh ketinggalan teman-teman. Meskipun Ibu tahu kamu anak cerdas, tetapi tanpa buku kamu akan sangat ketinggalan. Ibu tak ingin kamu……”

“Terima kasih Bu Guru, saya sudah pikirkan apa akan terjadi pada saya seandainya saya tidak membaca buku-buku itu.”

“Nah, ambilah semuanya. Seminggu yang lalu teman-temanmu sudah mengumpulkan dana bagi Sapon, Suciati, Narsam, dan Rachmat untuk mengganti pembelian buku ini. Ini bukan kehendak Ibu, Nurahajeng dan teman-temanmu yang punya inisiatif mengumpulkan uang dari sisa uang saku mereka. Jadi ambil saja buku  dan LKSmu.”

“Saya tidak ingin merepotkan teman-teman Bu, seperti saya juga tidak ingin merepotkan ibu saya, maka saya putuskan untuk mengembalikan buku dan LKS itu.”

Sunyi, meski di luar hiruk-pikuk anak-anak laki-laki bermain futsal dan gemuruh teriakan anak-anak perempuan mermain bendera mendukung tim kelas masing-masing. Sapon berusaha menatap mata teduh di depannya, tetapi diurungkan karena mata teduh di balik kacamata minus itu ternyata juga sedang menatap tajam mukanya. Maka rusuh hatinya makin menjadi.

“Terus, apa mau Sapon?”

“Biarlah saya tetap seperti apa adanya Bu, saya bisa meminjam teman-teman untuk sekadar membaca meskipun sekilas, atau masih bisa berkunjung ke perpustakaan sekolah.”

Perempuan itu mengeleng-gelengkan kepala. Bertahun-tahun menjadi seorang guru Bimbingan Konseling, yang selalu berhadapan dengan siswa bermasalah, baru kali ini menemukan masalah unik dalam diri siswanya, Sapon. Anak yang cerdas namun terampas masa remajanya oleh nasib yang menimpanya setelah musibah yang terjadi setahun yang lalu.

“Akhirnya Ibu tidak bisa memaksamu Sapon, tetapi  pikirkanlah, Nurahajeng dan teman-temanmu sudah beritikad baik untukmu. Akan sangat kecewalah mereka seandainya tahu bahwa kamu menolaknya? Bagaimana Ibu mengatakan kepada mereka? Ibu kawatir Rachmat, Suciati, dan Narsam ikut menolaknya.”

“Bu, saya sudah tahu semuanya dan saya sudah mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, tetapi kalau saya tetap mengambil buku-buku dan LKS itu beban saya akan makin bertambah berat.”

“Baiklah, tetapi Ibu ingin kamu tetap belajar dan menjadi salah satu yang terbaik, minimal di kelas kita. Ibu sebagai wali kelas akan sangat bahagia jika Sapon mempertahankan ranking dua setelah Nurahajeng.”

“Akan saya usahakan Bu, mohon pamit.”

Tak ada yang bisa terucap dari bibir perempuan saat anak malang itu berpamitan keluar dari ruang BP. Maka dipandanginya punggung Sapon hingga hilang di balik pintu seraya berdesah, ‘pergilah anak malang, semoga langkahmu tak terjerat oleh LKS itu.

Dipandanginya buku dan LKS yang masih utuh di depannya. Betulkah lembar-lembar dalam LKS itu sudah menuntun siswa menemukan sesuatu yang dibutuhkan di dalam mencapai suatu kompetensi dasar dalam kurikulum sekolah. Ataukah hanya lembaran-lembaran kosong yang sengaja dibuat untuk mewakili guru ketika guru berhalangan hadir di kelas. Atau bahkan merupakan lahan bisnis para pengambil kebijakan untuk mendapatkan keuntungan dengan mengambil kedok musyawarah guru. Kalau itu yang dimaksud LKS, celakalah orang-orang yang telah terlibat dalam proyek penyusunan lembar kerja siswa itu.

Maka dibiarkan saja barang-barang itu teronggok di meja kerjanya. Disekanya keringat yang membasahi kacamata minusnya dengan ujung jilbabnya seraya mengucapkan istigfar berulang-ulang agar beban itu segera lepas dari tangannya.

Di luar sepi. Tinggal beberapa guru dan sejumlah siswa yang tergabung dalam kelompok KIR masih sibuk menyelesaikan tugas penelitian di ruang laborat sekolah.  Sudah tidak ada mobil di tempat parkir berarti kepala sekolah dan guru lainnya sudah pulang. Maka distarternya motor matic mungilnya agar segera tiba di rumah dan mendapatkan  buah hatinya yang baru berumur satu tahun.

“Bu, Pak Romli, bos kita itu butuh anak laki-laki untuk menjaga rumah beliau. Diutamakan anak yang memang perlu dibantu untuk dijadikan anak asuh,” kata suaminya lewat telepon genggamnya.

“Kebetulan Pak, ada siswaku yang  sangat membutuhkan bantuan itu.”

“Baik, aku segera pulang, suruh anak itu datang ke rumah sore ini, atau kita jemput ke rumahnya segera.”

Dengan perasaan berbunga-bunga untuk segera mendapatkan Sapon dan memberikan kabar gembira, perempuan itu menyongsong suaminya sebelum lelaki masuk rumah.

“Rumahnya  masuk gang sempit, mobil tidak bisa masuk, jadi kita naik motor saja Pak.”

Dan meluncurlah matic mungil membelah jalan di tengah hutan pinus. Sesekali direm mendadak demi menghindari lubang menganga karena aspal terkelupas dan menimbulkan suara menjerit dari gesekan aspal dan ban. Setelah masuk gang sempit berbatu didapatkannya rumah sangat sederhana berdinding bambu dan berlantai tanah. Dari dalamnya muncul Sapon, ibu dan adik-adiknya yang terperangah melihat gurunya sudah berada di depan pintu rumahnya yang tidak layak untuk menerima tamu sekelas Bu Niken.

“Maaf Bu Niken, saya tidak punya tempat untuk menyambut kehadiran Ibu dan Bapak, jadi silakan duduk di bangku ini.”

“Cukuplah Sapon, Bapak dan Ibu hanya ingin menyampaikan berita gembira, duduklah.”

“Begini Ibu, dan kamu Sapon,  Pak Romli, pimpinan perusahaan tempat Bapak bekerja menghendaki seorang anak asuh untuk menjaga rumah tinggal beliau di perumahan dinas. Pilihan Ibu adalah Sapon, karena Ibu melihat kamu bisa melakukan hal itu. Semua biaya sekolah dan kebutuhan ibu dan adik-adikmu akan dibantu beliau secara pribadi. Bagaimana Sapon?”

Sunyi. Sapon dan ibunya saling pandang dan kemudian keduanya saling menanggukkan kepala.

“Bagaimana Ibu? Bagaimana Sapon?  Ini tulus dari kami untuk bisa membantu Ibu dan Sapon.”

“Terima kasih Bu Niken,” diam beberapa saat meyakinkan ibunya bahwa tekadnya sudah bulat, “Ibu dan Bapak mulia sekali. Tetapi saya sudah memutuskan berhenti sekolah untuk sementara. Demi ibu dan adik-adik, saya akan pergi ke Jakarta menyusul paman yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Saya sudah pikirkan ini bersama ibu dan paman saya Bu.”

“Astagfirullah…, Sapon, tinggal setahun lagi kamu selesaikan sekolahmu di SMP, baru kamu boleh berhenti.”

“Tidak Bu, saya tidak akan putus sekolah. Saya tetap belajar sambil bekerja dengan cara saya sendiri. Saya akan bahagiakan ibu dan adik-adik saya dulu sebelum saya kembali ke sekolah. Saya yakin bisa.”

“Apa yang akan kamu kerjakan di Jakarta.”

“Saya ikut paman bekerja di pabrik kertas Bu. Doakan saya agar bisa bekerja sebaik-baiknya. Kelak jika aku sudah mendapatkan pengalaman kerja dan cukup modal, saya akan bekerjasama dengan paman untuk mendirikan pabrik kertas di sini agar bisa membantu sekolah mencetak lembar kerja siswa. Paman bilang daerah kita cukup berpotensi untuk didirikan pabrik kertas, oleh karena itu saya…”

“Apa tidak bisa diundur sampai kamu tamat dan mendapatkan Ijazah.”

“Ijazah juga kertas Bu, saya akan merasa berhasil jika sudah dapat membuat bahan baku untuk membuat kertas ijazah itu. Sekali lagi terima kasih atas perhatian Ibu dan Bapak, saya sudah membeli tiket bus malam ini.”

Plak, serasa  tamparan keras mendarat di muka perempuan itu begitu mendengar kata-kata sinistis anak itu. Merah mukanya tidak bisa disembunyikan, maka diseretnya lengan suaminya untuk segera berlalu dari tempat itu. Dalam dadanya berkecamuk seribu cacian dan umpatan. ‘Aku telah gagal menjadi pembimbing  siswa-siswaku. Aku telah gagal meyakinkan siswaku bahwa lembar kerja siswa atau mereka sebut LKS bukan satu-satunya sarana untuk mendapatkan nilai dari guru.

Cilacap, Juli 98

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: