damai di bumi damai di hati

Damai di Bumi Damai di Hati

Oleh Yonas Suharyono

………………………………….

Tiada lagi suara bising,

dentum kekejaman,

tiada lagi hati ingin

berlomba berkuasa

Hilang sudah keresahan

aman tenteram bagai di alam surgawi,

damai di hati senantiasa

harapan seluruh insani

……………………………………

Lirik di atas bukan penggalan puisi, bukan bagian dari ayat kitab suci, bukan pula bagian dari madah, melainkan penggalan dari lagu langgam keroncong gubahan Budiman B.J (almarhum) berjudul Damai di Bumi. Dengarlah, betapa merdu dan menyentuh hati saat suara lembut penyanyi Sundari Soekotjo melantunkan baris-baris melodi dari tang-ganada minor dengan deretan kata yang sangat menggugah nurani.

Seandainya, ya seandainya kata “damai” betul-betul melekat di setiap insan, terucap dari mulut yang tulus dan suara yang lembut, selembut penyanyi keroncong, o, betapa teduhnya hati. Seandainya para pemimpin, ahli agama, cerdik cendekia betul-betul mengucapkan kata “damai” dengan suara theologis, selembut bisikan malaikat, betapa sejuknya hati. Jauh dari prasangka buruk, jauh dari dentum meriam dan kengerian luar biasa. Seandainya para politikus berdamai dan tidak melulu mengeluarkan statmen yang bisa membuat orang-orang bawahan kebingungan, o, betapa indahnya dunia.

Maka, dengarlah lagu keroncong yang mendayu-dayu, merangkai nada dan lirik yang selalu saja memuji indahnya tanah air  bernama Indonesia, memuja pahlawan bangsa Indonesia, memuja Tuhan Yang Esa. Jangan hanya mendengarkan lagu Goyang Dombret, Waru Doyong, atau Mbah Dukun dan Sabu-Sabu. Yang nyanyi lagu Sabu-Sabu semoga betul-betul berhenti nyabu. Sesekali, biarlah telinga mendengarkan lagu yang merdu mendayu ‘tada lagi suara bising dentum kekejaman, tiada lagi hati ingin berlomba berkuasa’.

Biarlah jeda, hentikan provokasi yang menyesatkan umat manusia. Jangan recoki generasi muda kita dengan pernyataan yang membakar hati untuk saling membunuh, saling menikam, saling mencurigai, saling mendendam. Di bulan Ramadan yang suci ini, biarlah ‘damai’ yang dari Sang Khalik membumi, merambahi hati yang panas, menyi-ramnya dengan air kesejukan, biar hati yang panas menjadi sejuk, biar kepala yang panas menjadi teduh. Biar api membara padam oleh air kedamaian. Maka dengarlah lagu keroncong yang merdu merayu, ‘hilang sudah keresahan, aman tenteram bagai di alam surgawi, damai di hati senantiasa, harapan seluruh insani’. Damai di bumi, damai di hati. Alangkah indahnya dunia yang damai, Indonesia yang damai.

Biarlah anak-anak bermain, menikmati pagi yang cerah di negeri yang indah. Biarlah orang-orang tua bergirang, menikmati masa senjanya di negeri yang damai, aman dan tenteram. Biarlah senapan berhenti menyalak, biarlah berhenti menumpahkan timah panas pada dada tembus punggung. Biarlah muka tengadah, hati berserah, dan tangan terangkat seraya memuji Nama-Nya, memuji Keagungan-Nya. Damai di bumi, damai di hati, damai di bulan suci.  Marhaban Ya Ramadan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: