thek-thek

Musik Tek-Tek, Eksotika Budaya Pinggiran

Oleh Yonas Suharyono,

…….

Jaran-jaran cilik, cilik ombaking banyu

Jaran-jaran cilik, cilik ombaking banyu

Manggut-manggut kaedanan jaran cilik

Cilik soderena, rio jomplangena

Do ma nini… aduh enake….

Adhuh enak, adhuh enak, adhuh enak

Adhuh enak….

Lagu di atas mengalun dari para penabuh kentongan bambu di sebuah dusun di pinggiran Kota Cilacap, kota paling pojok barat daya Provinsi Jawa Tengah. Syair khas Banyumasan itu begitu lancar meluncur dari mulut-mulut bersahaja para panayagan (penabuh) alat musik ritmis dari bambu wulung itu. Kesederhanaan dan kebersahajaan musik itu mampu membangkitkan rasa kebersamaan di antara mereka untuk menyuarakan musik rakyat pinggiran.

Simbol Kesederhanaan

Tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa tek-tek, si kentong (yang di Wonosari, Gunungkidul disebut thoklik) itu mampu bangkit dan mencuat bak meteor di tengah-tengah menjamurnya musik campursari dan kelompok-kelompok band remaja pada dasawarsa terakhir. Bagaimana mungkin potongan-potongan bambu wulung yang dibentuk kentongan itu mampu menggeser dominasi calung, alat musik bambu yang lahir berabad-abad sebelumnya, juga yang lebih agung lagi, musik karawitan. Kesederhanaan tidak saja tampak dari bahan serta medianya, tetapi juga teknik, gaya, serta penggunaan komposisi musikalnya. Para penabuh tidak peduli apakah lagu yang dibawakan sesuai dengan tonalitas/melodi, harmoni, dan pola ritme, sebab dimensi itu terlalu jauh untuk diterapkan dalam ranah budaya pinggiran. Bagi mereka, kebersamaan dalam kesederhanaan adalah harmoni yang sesungguhnya. Asal ramai dan bisa dijogetin.

Kalau dahulu fungsi kentongan bambu (thoklik) lebih banyak digunakan sebagai teman beronda di malam hari, membangunkan warga untuk makan sahur pada bulan puasa, sarana komunikasi paling efektif pra-interkom, kini si kentong alias tek-tek ini mampu merambah strata elite. Di wilayah eks-karesidenan Banyumas (Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga) bahkan Tegal dan Pekalongan alat musik bambu ini telah menjadi primadona. Betapa tidak, keberadaan musik ini kini menjadi pilihan utama bagi kantor-kantor, bank, dinas, instansi yang merayakan hari jadi, ulang tahun, hajatan, bahkan menyewanyan untuk mengikuti lomba. Mereka di-booking dengan harga yang cukup tinggi untuk kelas musik rakyat. Di Cilacap, ada yang pasang tarif hingga 5 juta rupiah untuk sekali tampil berdurasi antara 2 hingga 3 jam.

Tonalitas Diatonik

Dilihat dari bentuk fisik serta suara yang ditimbulkan, musik tek-tek merupakan jenis alat musik ritmis (non-nada). Pada awalnya hanya beberapa potong bambu wulung yang dipukul secara ritmis dan membentuk suara yang khas, namun belakangan muncul bentuk angklung yang memberikan nuansa melodis. Tentu saja ini sudah keluar dari bentuk baku tek-tek itu sendiri, sebab angklung juga sudah mempunyai wilayah sendiri.

Pada musik angklung melodi yang ditimbulkan adalah tonalitas diatonik (diatonic scale), di mana nada yang tersusun adalah rentetan nada yang strukturnya menganut standard musik dunia yang menggunakan pola jarak baku. Tentu saja ini bertolak belakang dengan kebanyakan musik tradisi Jawa yang kebanyakan menganut sistem tonalitas pentatonis (pentatonic scale), lazim dibagi dalam titi laras slendro dan pelog. Kalau dengan titi laras pelog masih bisa disejajarkan karena ada pola jarak yang sama antara keduanya, namun jika lagu yang dinyanyikan berlatar belakang titi laras slendro, maka akan ada pemaksaan dalam menyajikannya. Namun demikian, dalam permainan tek-tek tidak ada yang tabu dalam menyanyikan lagu. Tak peduli fals atau tidak, yang penting ramai dan menghibur.

Penggunaan tonalitas diatonik ini memberikan keleluasaan bagi penggarap musik tek-tek dalam mengoleksi lagu-lagu yang diadaptasi ke dalam musik jenis ini, mulai dari lagu daerah Jawa Tengah, lagu Sunda, Bali, Maluku, Tapanuli, bahkan lagu mancanegara baik di Asia maupun lagu barat, mulai lagu dangdut, campursari hingga populer. Oleh karena itu musik tek-tek sangat fleksibel dan relatif mudah di samping pola ritmenya yang sederhana juga penggunaan unsur harmoni yang tidak rumit. Unsur harmoni dalam hal ini hanya berkisar pada keselarasan antara bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh instrumen melodis dan ritmis, belum sampai pada tingkat penggunaan akor sebagaimana dalam musik yang lain.

Pada dasarnya musik tek-tek hanyalah hasil eksplorasi bunyi-bunyian khas kentongan kemudian ditingkah bunyi angklung yang sudah mempunyai pola melodi ditambah bentuk gambang bambu (calung) yang disejajarkan  dengan bunyi angklung. Eksplorasi bunyi-bunyian ini tidak berhenti sampai di sini. Pada perkembangan selanjutnya dimasukkan instrumen ’keplak’ semacam ’remo’ dan ’kecrek’ atau ’tamborin’ untuk memperkuat unsur ritmis. Untuk memberikan aksentuasi pada bass diambilah tong (tempat ikan bekas), yang kecil mereka sebut cello, dan yang besar untuk bedug (bass). Pada tingkatan eksplorasi yang lebih tinggi, dimasukkan juga kendang jaipong, serta perangkat-perangkat aksesoris yang lain.

Bentuk penampilan

Penampilan tek-tek tidak seru jika tidak melibatkan penari sebagai hiasan penampilan, penyanyi biasanya dirangkap oleh penabuh kenthongan yang suaranya lantang serta bisa mengimbangi volume instrumen. Yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan seorang dirigen yang mereka sebut mayoret lengkap dengan tongkat komando (stik major leader). Mayoret bisa dilakukan oleh seorang laki-laki atau perempuan, atau bahkan yang lebih kemayu lagi, waria. Dalam hal ini dibutuhkan pula seorang koreografer yang bertugas menata gerak bagi penari-penari penghias penampilan. Selai itu ada pula petugas perancang (desain) aksesoris yang akan mendukung segi visual, seperti kuda kepang, ornamen instrumen, hingga pemunculan gunungan (kekayon).

Seperti musik-musik kontemporer lainnya, musik tek-tek bakal bernasib sama, ada saatnya naik, ada saatnya turun. Berbeda dengan saudara kandungnya yang dilahirkan lebih dulu, calung. Sama-sama dari keluarga bambu wulung, calung (orang Banyumas mengartikan : carang pring wulung atau dicacah melung-melung) lebih ngeklasik dan tertata baku dengan tonalitas sama dengan karawitan jawa, slendro dan pelog, sedangkan tek-tek lebih dekat dengan campursari dan musik kontemporer lainnya. Oleh karena itu usia tek-tek diprediksi juga tidak akan bertahan lama, artinya, kepopuleran musik ini akan segera tergeser oleh sesuatu yang relatif baru, yang merupakan kreasi dan eksplorasi para pelaku seni pada saat itu.

Boleh jadi, bagi tek-tek yang kini naik pamor dan menguasai tahta musik rakyat Banyumas, booming ini adalah klimaks dari perjalanannya. Perjalanan yang singkat melesat  bak meteor itu (tidak bisa dielakkan) bakal redup perlahan dan pasti seiring berjalannya waktu. Dan Si Kentong akan kembali pada fungsinya semula, sementara Si Calung, pasti bertahan dengan segala kesederhanaannya.

Yonas Suharyono,

Guru dan pengamat musik tradisional

Tinggal di Cilacap

3 Tanggapan to “thek-thek”

  1. trully Says:

    selamat siang pak Yonas,
    saya tertarik dengan kesenian tek tek. apakah pak Yonas punya kenalan yg bisa mengajarkan kami kesenian tsb?

    trmksh

  2. Thoklik/Thek-Thek | Umbulrejo Says:

    […] Sumber […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: